Senin, 31 Agustus 2015

Menjadi Korban & Tersangka

 
   Langit malam sedang "sepi" waktu itu, tidak ada satu pun bintang yang menemani bulan menyinari bumi. Angin berhembus dengan kencang hingga menembus kedalam jaket Nino, dinginnya malam pun bisa ia rasakan dengan jelas di kulitnya.

   Saat itu Nino sedang mengendarai sepeda motornya menuju salah satu rumah pembeli toko online bosnya, ia ditugaskan untuk mengantarkan pesanan si pembeli. Ia lakukan pekerjaan ini untuk menambah uang saku kuliahnya, ia tidak bisa terus-terusan mengandalkan uang dari kedua orang tuanya untuk bertahan hidup.

***

   Ketika sampai, ia ketuk pintu rumah besar itu sambil berteriak "paket" dan tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam rumah memanggilnya untuk masuk kedalam. Suara itu terdengar seperti suara seorang pria dan tanpa ada rasa curiga, ia pijakan kakinya masuk kedalam rumah itu. Sumber suara tersebut terdengar dari dalam sebuah kamar yang tak jauh dari pintu rumah, ia pun berjalan mendekat kedepan pintu kamar itu.

   Ia ketuk pintu kamar tersebut namun tidak ada tanggapan, dan tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya. Nino kaget, lalu dia pun memberanikan dirinya untuk mengintip kedalam kamar itu. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika melihat isi kamar itu..

   Ada seorang gadis, lebih tepatnya jasad seorang gadis tergeletak dilantai. Terdapat banyak luka tusuk di jasad gadis itu, dan darah segar mengalir keluar dari lukanya. Darah itu membanjari lantai kamar dan juga mengeluarkan aroma tak sedap.

   Nino sangat ketakutan, detak jantungnya berdebar sangat cepat dan nafasnya mulai berhembus tak beraturan. Dengan sigap ia berlari menuju pintu rumah itu untuk segera keluar. Namun, sebelum ia menggapai pintu itu, tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya dari belakang hingga ia terjatuh.

   Ia menoleh ke belakang dan jantungnya pun terasa seperti telah meledak, bagaimana tidak ? Ia melihat seorang pria tua berdiri dibelakangnya sambil membawa sebuah pisau yang berlumuran darah. Pria itu bertanya kepada Nino dimana paket pesanannya, lalu dengan ketakutan Nino memberikan paket itu kepadanya.

   Pria itu membuka isi paketnya dihadapan Nino dan ternyata isi dari paket itu adalah, sebuah tali. Pria itu tersenyum sambil menatap tajam kearah Nino. "Kau sudah mendapatkan paket mu, biarkan aku pergi!!" teriak Nino. Pria itu menjawab dengan perlahan "Aku baru saja membunuh seseorang, dan tentu saja aku tidak ingin ketahuan.. Jadi, aku butuh seseorang untuk, disalahkan"

   Nino sangat kaget mendengar perkataan pria itu, ia pun kembali bertanya "A.. Apa maksud mu ?" Pria itu menjawab dengan nada keras "Dasar bodoh! Aku akan membuat seolah-olah kamu yang telah membunuh gadis itu" "Aku akan menempelkan sidik jari mu ke jasad gadis itu, kemudian aku akan mengantung tubuh mu dengan tali ini, sehingga polisi akan mengira kau depresi dan bunuh diri" lanjut pria itu.

   Nino sangat ketakutan, ia pun bangkit berdiri dan mencoba untuk membuka pintu rumah itu, namun pintu itu terkunci. Dari belakang pria itu dengan cepat melilitkan tali yang ia pesan ke leher Nino. Nino sempat melawan, namun apadaya, lilitan dari tali itu membuatnya sulit bernafas dan kesadarannya pun sedikit demi sedikit mulai menghilang.

    Dalam sekejap timbul sebuah ide di kepala Nino, ia menarik nafas sekuat mungkin lalu ia berpura-pura diam tak sadarkan diri dan ia menahan nafasnya. Pria itu mengira bahwa Nino telah tewas, ia pun melonggarkan lilitan talinya sehingga Nino bisa kembali bernafas. Pria itu lalu menyeret tubuh Nino kedalam kamar dimana gadis itu dibunuh.

   Ketika ia dibawa masuk kedalam kamar, tercium bau busuk menyengat yang keluar dari jasad gadis itu. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak muntah dan bergerak. Jika ia menggerakan satu jari saja, penyamarannya akan terbongkar dan nyawanya akan ikut hilang.

    Nino bernafas dengan sangat pelan agar tidak ketahuan dan akhirnya pria itu keluar juga dari dalam kamar. Dengan sigap Nino bangkit berdiri dan melepaskan tali yang melilit lehernya. Ia pun bersembunyi di balik pintu kamar itu.

    Ketika pria itu masuk ke kamar, pria tersebut terkejut melihat tubuh Nino sudah tidak ada. Tanpa membuang-buang waktu, Nino keluar dari persembunyiannya dan melilitkan tali keleher pria itu.

   Ia lilitkan tali itu dengan sangat kencang keleher pria tersebut hingga pria itu kesulitan bernafas. Pria itu meronta-ronta kehabisan nafas dan pada akhirnya, pria itu diam dan tidak bergerak.

  Untuk memastikan apakah pria itu benar-benar tewas, ia meraih sebuah pisau dan menusukan pisau itu ke tubuh pria tersebut berulang kali. Air mata mengalir keluar dari mata Nino, ia kesal, sedih dan sekaligus senang, semuanya tercampur menjadi satu. Ia tak menyangka bahwa ia telah membunuh seseorang. Ada rasa menyesal di hatinya, namun ada rasa senang juga karna ia telah selamat dari pria itu.

   Sebelumnya Nino adalah seorang korban, namun kini, ia menjadi seorang korban sekaligus seorang tersangka.

***

   Keesokan harinya Nino ditangkap oleh polisi dan dibawa ke pengadilan. Ia telah menjelaskan semuanya pada hakim, namun ia tetap ditahan atas tuduhan pembunuhan. Sungguh malang, aksi mempertahankan dirinya dari ancaman dianggap bersalah oleh hakim. Pantaskah dia dihukum ?

   Terlepas dari itu semua, hendaknya kita untuk selalu berhati-hati dan jangan lupa untuk berdoa pada Tuhan meminta perlindungan, cause bad things can happen in anywhere & anytime.

 



 

 

Minggu, 23 Agustus 2015

Tumbal

 

   Pada suatu malam, seorang pemuda datang ke sebuah motel tua untuk menginap. Motel itu bersebelahan dengan Rumah Makan yang cukup ramai di kunjungi oleh pengunjung.

   Ketika Pemuda itu sedang check in, sang resepsionis memperingatkanya akan suatu hal, "Jangan pernah masuk ke kamar nomor 10! Jangan Pernah!" ucap resepsionis. Pemuda itu bertanya kenapa, namun wanita itu tidak menjawab. Pemuda itu pun pergi membawa perasaan heran.

   Disaat pemuda itu menelusuri lorong motel untuk mencari kamarnya yang bernomor 9, ia bertemu dengan seorang gadis. Gadis itu memperingatkannya untuk segera pergi dari motel itu, namun pemuda itu tidak menghiraukannya. Beberapa detik kemudian ia bertemu dengan orang lain yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh si gadis tadi dan begitu seterusnya. Setidaknya ia bertemu dengan 6 orang berbeda yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh si gadis tadi.

   Ketika ia sampai di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar bernomor 10, tiba-tiba saja ada seorang wanita tua datang dan menyapanya. Wanita itu mengaku sebagai pemilik motel ini dan juga sebagai pemilik Rumah Makan disebelah. Wanita itu mengajak si pemuda untuk berbincang-bincang sebentar.

   "Apakah kau memiliki keluarga atau teman dikota ini ?" tanya wanita itu. Pemuda itu pun menjawab "Tidak, saya baru tiba di kota ini tadi sore untuk merantau mencari pekerjaan".

   Wanita tua itu kembali bertanya "Lalu bagaimana jika kau hilang atau semacamnya? Akan butuh waktu yang lama bagi keluarga mu untuk menyadari bahwa kau telah hilang". Dengan sedikit kesal pemuda itu menjawab "Maaf, apa maksud anda mengatakan itu ?"  "Bukan apa-apa. Selamat malam dan semoga malam mu menyenangkan" jawab wanita itu sambil terus berjalan menjauh darinya. Pemuda itu pun tak ingin ambil pusing, maka ia langsung bergegas untuk tidur.

***

   Malam semakin larut ketika si pemuda terbangun dari tidurnya. Ia terbangun karena mendengar suara sepasang suami sedang bertengkar, suara itu berasal dari kamar bernomor 10 yang terletak disebelah kamarnya.

   Semakin lama suara pertengkaran suami istri itu terdengar semakin keras, sang istri pun berulang kali berteriak minta ampun kepada suaminya. Hingga puncaknya ketika sang istri berteriak nyaring meminta tolong. Tergeraklah hati sang pemuda itu untuk mengecek keadaan sang istri.

   Ia pun keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar bernomor 10 itu, namun tidak ada tanggapan. Justru suara teriakan sang istri semakin nyaring terdengar, namun anehnya tidak ada orang lain di motel itu yang menyadarinya kecuali pemuda itu.

   Ingin ia mendobrak masuk pintu kamar itu, namun ada keraguan dihatinya. Ia teringat akan peringatan yang diberikan oleh resepsionis. Ia pun mengintip kedalam melalui lubang kunci untuk memastikan keadaan sang istri.

   Alangkah terkejutnya dia ketika melihat sang istri sedang dicekik oleh suamiya sendiri. Pemuda itu pun menghapus rasa keraguan di hatinya dan memberanikan diri untuk mendobrak pintu kamar itu.

   Ia dobrak pintu berulang kali dan akhirnya pintu itu terbuka. Dengan sigap ia langsung masuk ke kamar itu untuk menyelamatkan sang istri. Namun ketika ia masuk kedalam, ia tidak percaya akan apa yang ia lihat.

   Ia hanya melihat sebuah ruangan kosong tak berpenghuni. Ruangan itu kosong, tidak ada satu pun orang didalamnya kecuali dia seorang. Dan tiba-tiba saja pintu kamar itu tertutup dan terkunci, pemuda itu pun terkurung didalam kamar itu sendirian.

   Detak jantungnya berdebar dengan cepat dan nafasnya mulai berhembus tak beraturan. Ketakutan yang ia rasakan pun semakin menjadi-jadi ketika sesosok wanita menyeramkan keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan mendekatinya.

  Wanita itu memiliki rambut hitam yang sangat panjang, pakaian wanita itu berwarna merah darah, dan wajah wanita itu penuh dengan bekas luka sayatan pisau. Jelas wanita itu bukan manusia. Wanita itu berjalan perlahan mendekati si pemuda dengan mata menatap tajam kearah pemuda itu.

   Pemuda itu sangat ketakutan, ia berusaha membuka pintu kamar itu sambil terus berteriak nyaring. Namun usahanya itu sia-sia, tidak ada satu pun orang yang datang menolongnya.

  "Si.. Sii.. Siapa kau ini?" tanya pemuda itu ketakutan. Sesosok wanita itu tersenyum licik dan kemudian menjawab "Aku adalah ajal mu!" Sosok wanita itu pun kemudian berlari dengan cepat kearah pemuda yang dari tadi berterik itu dan seketika suasana kembali menjadi sunyi dan tenang.

***

   3 Jam kemudian Wanita pemilik motel dan resepsionis masuk kedalam kamar bernomor 10 itu. Mereka berdua melihat si pemuda sudah tewas tergeletak di lantai  dan darahnya membanjiri lantai kamar itu. "Cepat bersihkan ruangan ini dan bawa mayatnya ke dapur Rumah Makan disebelah, disana koki akan memasaknya untuk para pembeli" ucap wanita itu kepada resepsionis. Si resepsionis pun segera melakukan tugasnya.

   Lalu wanita itu masuk kedalam kamar mandi dan berkata "Apa kau suka dengan tumbal yang ku berikan pada mu ini?" dan tiba-tiba saja dari dalam kegelapan malam, terdengar suara menjawab "Ya!! Dan jangan lupa 4 bulan lagi kau harus membawakan yang baru untuk ku". "Baiklah, selama kau terus membuat Rumah Makan ku ramai dikunjungi pembeli, akan ku carikan tumbal yang baru untuk mu. Selamat malam"


*The End*

Karya : Billiam Constani Leta

 

Minggu, 16 Agustus 2015

Pembunuh

  
   Selvi, begitulah biasanya orang-orang memanggil ku. Umur ku baru saja menginjak usia 7 tahun dan hari ini aku kembali tinggal di panti asuhan, setelah kedua orang tua yang mengadopsi ku tewas terbunuh. Dan kematian mereka ada hubungannya dengan Girza, hantu penunggu panti asuhan ini. Dulu ia kuanggap sebagai teman, namun sekarang berbeda, aku membencinya..

   Saat itu Girza datang ke kamar ku pada tengah malam, ia datang membujuk ku untuk kembali tinggal di panti asuhan bersamanya. Namun semenjak 3 tahun yang lalu aku diadopsi, aku sudah merasa nyaman dan bahagia tinggal bersama dengan keluarga angkat ku, maka ku tolaklah ajakannya. Ini bukan pertama kalinya ajakannya ku tolak, sejak pertama kali aku pindah ke rumah berlantai dua ini pun, ia sudah mulai membujuk ku untuk kembali tinggal di panti.

   Namun Girza pantang menyerah, pada malam-malam berikutnya, disaat aku sedang lelah karna menjalani aktivitas baru yaitu bersekolah, ia selalu datang mengajak ku bermain, serta membujuk ku untuk kembali ke panti. Awalnya ia datang hanya beberapa kali saja dalam seminggu tapi kini ia menjadi lebih sering muncul dan mulai menggangu aktivitas ku. Aku pun mulai merasa jenuh dan terganggu oleh keberadaannya, perlahan amarah pun mulai tumbuh didalam hati ku.

   Hingga pada ahkirnya, disaat kesabaran ku sudah mencapai batasnya, Aku berkata dengan tegas kepadanyan "Girza! Aku tidak bisa bermain dan bertemu dengan mu lagi! Aku sudah lelah dengan semua ini!" ucap ku. Seketika terlihat ekspresi kaget di wajahnya,  terpancar perasaan kecewa dan marah dari matanya, ia pun diam sejenak dan berkata "Apa orang tua mu itu yang menyuruh mu mengatakannya?!" tanya Girza kesal. "Apa? Ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka" jawab ku. "Ahhh!! Aku tau seharusnya aku bunuh mereka dari awal" ucap Girza Kesal. Sontak aku kaget mendengarnya dan tiba-tiba saja ia menghilang.

   Kata-katanya itu membuat mata ku tak bisa kuajak untuk kembali tidur, kata-kata itu terus bergentayangan di kepala ku, kata-kata itu juga membuat hati ini menjadi cemas dan takut, hati ini takut bila Girza akan berbuat sesuatu yang buruk terhadap kedua orang tua ku. Dan hal yang kutakutkan pun terjadi..

******

   Keesokan malamnya sekitar pukul delapan malam, aku dan ayah ku sedang menonton televisi di ruang keluarga, ibu ku sedang mandi dikamarnya, dan mbok Siti sedang memasak di dapur. Tiba-tiba saja Girza mucul, ia menatap ku dengan tajam dan tersenyum licik, lalu ia pergi berjalan ke dapur. Aku pun mengikutinya, namun ketika aku sampai di dapur, aku tidak melihat Girza disana, namun aku hanya melihat mbok Siti sedang berdiri diam dengan tatapan kosong. Kupanggil mbok Siti namun ia tidak menjawab. Perlahan ia meraih pisau dan berjalan ke ruang keluarga.

   Aku bertanya dalam hati apa yang sedang dan akan dilakukan oleh mbok Siti, butuh waktu sejenak bagi ku untuk menyadari bahwa, dia sedang kesurupan oleh Girza dan mungkin saja ia akan mencelakai kedua orang tua ku, atau bahkan lebih buruk, membunuh mereka. Kaki ini langsung berlari untuk menghentikan mbok, namun terlambat. Dari kejauhan aku melihat mbok mengangkat pisaunya dan menghembaskannya ke leher ayah dari belakang.

   Darah segar mengalir keluar dari leher ayah dan membasahi sofa yang didudukinya, tak berhenti disitu, ia menusuk-nusukan pisaunya ke badan ayah berulang kali. Ingin mulut ini berteriak, tapi melihat peristiwa itu membuat mulut ku bungkam. Hanya air mata dan ekspresi kaget yang bisa menggambarkan kondisi ku saat itu.

   Tak sanggup lagi mata ini melihat kejadian itu dan tanpa sepengetahuan mbok Siti alias Girza, aku berlari ke kamar ibu untuk memperingatkannya. Aku masuk ke kamarnya dan mengetuk pintu kamar mandinya, namun tidak ada tanggapan, ibu terlalu sibuk mendengar kan lagu selagi mandi. Tak berselang lama kemudian aku mendengar suara langkah dari luar kamar sedang berjalan menuju kemari.

   Dengan perasaan panik aku masuk kedalam lemari dan bersembunyi disana, pintu lemari itu memiliki sela-sela seperti ventilasi sehingga kau dapat melihat keluar namun orang lain sulit melihat kedalam. Kira-kira gambar lemarinya seperti ini.


   Lalu mbok Siti pun masuk ke kamar, ia diam sejenak lalu ia bersembunyi di bawah tempat tidur, disitu ia menunggu hingga ibu ku keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian keluarlah ibu ku dari kamar mandi mengenakan piayama putihnya. Ketegangan ini membuat tubuh ku tak bisa bergerak dan mulut ku tak bisa bersuara, dan kini ajal ibu ku pun ahkirnya tiba..

   Ketika ibu ku sedang asik bercermin, dengan cepat mbok Siti keluar dari persembunyiannya. Ia ayunkan pisau ditangannya dengan cepat, lalu pisau itu menancap tepat di punggung ibu ku. Darah pun mengalir keluar dari tubuhnya dan mengubah warna piyama putihnya menjadi piyama berwarna merah darah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak, ku tutup mulut ku dengan kedua tangan ku sekuat mungkin dan keringat dingin pun ikut mengalir deras membasahi tubuh mungil ku. Lalu ku penjamkan mata ku, namun telinga ini masih bisa mendengar suara ibu ku yang  merintih kesakitan.

   Beberapa detik kemudian keadaan menjadi sunyi, dan aku mendengar suara kaki melangkah menjauh. Kubuka mata ku perlahan, dan aku melihat ibu telah terbujur kaku dilantai berlumuran darah. Pembunuh itu tak lagi berada di dalam kamar, ia sudah keluar entah kemana. Walaupun begitu, aku masih belum berani untuk keluar dari persembunyian ku.

*****

   Dua jam kemudian, setelah aku merasa keadaan sudah cukup aman. Aku paksa badan ku untuk keluar dari lemari dan berusaha untuk mencari bantuan. Namun, ketika aku membuka pintu kamar ibuku,  dia.., pembunuh itu.., sedang berdiri didepan pintu sambil memegang sebuah pisau yang ia gunakan untuk membunuh kedua orang tua ku. Aku sontak kaget dan ketakutan, dengan perlahan aku berjalan mundur mendekati jendela kamar.

   "Sel, ahkirnya kau muncul juga, ayo.., ikut lah dengan ku ke panti asuhan" ucapnya. "Apa kau gila?! Tentu saja aku tidak mau pergi bersama mu!" bentak ku. "Tapi kenapa ? Mereka berdua sudah kubunuh, dan kini tidak ada lagi alasan bagi mu untuk tetap tinggal disini" jawabnya. aku diam sejenak lalu berkata "Memang tidak ada lagi alasan bagi ku untuk tetap tinggal disini, tapi bukan berarti aku harus ikut bersama mu.., bye.." Setelah aku mengatakan itu, dengan sigap aku meloncat keluar jendela hingga kaca jendela itu pun pecah dan aku pun terjun bebas dari lantai dua rumah itu.

   Kedua kaki ku menghantam tanah terlebih dahulu lalu tubuh ku terguling di tanah. Bisa ku rasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuh ku, namun untungnya aku tidak kehilangan kesadaran ku. Dengan susah payah aku pun bangkit berdiri dan berlari terpincang-pincang mencari bantuan. Setelah lelah berteriak sekencang mungkin, ahkirnya ada warga yang keluar dari rumahnya dan menolong ku.

   *****

   Keesokan paginya aku berada disebuah Rumah Sakit ternama dan seorang bapak-bapak dari lembaga perlindungan anak datang menemui ku. Orang itu menanyakan banyak hal kepada ku, namun hanya beberapa pertanyaan saja yang bisa ku jawab.

Disitu juga aku memberi tahu dia bahwa mbok Siti tidaklah bersalah, dan Girza adalah pelakunya. Orang itu tampak bingung mendengar ucapan ku, lalu ia bertanya siapa itu Girza. "Jika kubilang Girza adalah hantu, ia pasti tidak percaya dan akan menganggap ku gila" gumam ku dalam hati. Aku pun hanya bisa diam tanpa berkata sepatah kata apapun 

   Itulah cerita bagaimana kedua orang tua ku terbunuh sehingga aku pun harus rela kembali tinggal di panti asuhan. Aku jalani hari-hari ku disini sama seperti sebelumnya, namun kini ada satu hal yang berbeda.. Disaat dia datang dan mengajak ku bermain, aku tidak menghiraukannya. Aku berpura-pura kemampuan Six-Sense ku telah menghilang, ia pun tidak pernah lagi menggangu ku dan kini ia telah menghilang dari kehidupan ku. Namun, rasa amarah di hati ku ini tidak pernah hilang...




~The End~

Karya : Billiam Constani Leta

 


 


   

  

  

  



   

Minggu, 09 Agustus 2015

Rumah Kosong

 


   Wahyu, pemuda berusia 27 tahun ini baru saja pindah kesebuah rumah baru nan cantik, namun kecantikan rumah itu ternodai karna bersebelahan dengan sebuah rumah kosong yang menyeramkan sehingga kurang enak dipandang. Tinggal disebelah rumah itu tidak membuatnya takut karna ia sendiri tidak percaya akan adanya hantu. Namun, dia akan belajar untuk mempercayai itu.

  Malam itu bulan bersinar dengan terang, angin dingin berhembus dengan kencang dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam ketika wahyu mendengar Leni sedang tertawa sambil berlari mengelilingi ruang keluarga. "Len, kok jam segini masih main ? Tidur sana gih" ucap Wahyu. "Tapi ayah, aku sama deni masih asik main" balas anak berusia 5 tahun ini. "Kalo gitu.. kasih tau sama teman khayalan mu itu kalo kamu sudah disuruh tidur" Ucap Wahyu lagi. "Baiklah ayah.." kata Leni polos.

   Bukan rahasia lagi kalau Leni mempunyai teman khayalan bernama Deni, namun yang tidak Wahyu ketahui adalah Deni bukan hanya sekedar teman yang hanya ada di pikiran Leni, ia lebih dari itu.

   "Pakai selimut mu supaya nggak kedinginan" ucap Wahyu. Leni membalas "Iya.. Ayah, tadi Deni bi.." "ya sudah ayah ke kamar ayah dulu. Mimpi indah" potong Wahyu. Wahyu pun pergi meninggalkan kamar Leni, dan ketika Wahyu akan menutup pintu kamar, Leni berkata " besok malam mereka datang ayah.." Wahyu terdiam sejenak dan berkata "mereka siapa ?" "Penghuni rumah kosong sebelah.. Deni bilang mereka akan datang kemari dan berkunjung" ucap Leni.

  "Leni, rumah itu tidak ada penghuninya.. Itu sebabnya rumah itu disebut rumah kosong.." ucap Wahyu. "Tapi ayah, Deni bilang ada yang akan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengambil kembali lukisan yang ayah ambil dari rumah itu" balas Leni dengan sedikit ngotot. "Ba.. Bagaimana kau tau tentang lukisan itu ?" ucap Wahyu heran. "Deni yang kasih tau.." kata Leni. Wahyu tertegun mendengar hal itu, karna ia ingat dengan jelas tidak ada orang  yang tau ketika ia mengambil lukisan itu. Ia pun pergi ke kamarnya membawa perasaan heran dihati.

*****

   Keesokan siangnya Wahyu menelpon Leni untuk memberitahu bahwa hari ini ia akan kerja lembur hingga malam dan bibinya, Merry akan datang menemaninya hingga Wahyu pulang. Setelah menelpon ia kembali berkerja dan men-silent handphone-nya.

   Jam demi jam telah berlalu, dan kini jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Tiba saatnya bagi Wahyu untuk pulang dan bertemu dengan anak tercintanya, namun ketika ia akan pulang, ia mendapati handphone-nya memiliki 6 pesan suara dari Merry.

Dikirim pada jam 06:30 pm
- "Halo, yu.. Kamu jam berapa pulang ? Cepat pulang ya.." ucap Merry dengan nada suara sedikit panik dan khawatir.

Dikirim pada jam 07:17 pm
- "Wahyu, Keadaan dirumah ini jadi semakin aneh. Cepatlah pulang!! Ucap Merry ketakutan.

Dikirim pada jam 07:53 pm
- "Halo Wahyu, Aku dan Leni sudah tidak tahan berada dirumah ini, jadi kami putuskan untuk pergi dari sini. Kau bisa menemui kami dirumah ku" ucap Merry dengan nada panik dan dengan nafas yang terengah-engah.

Dikirim pada jam 08:04 pm
-  "Wahyu!! Cepat pulang!!! Mereka tidak mengizinkan kami keluar! Kami Takut..!" Teriak Merry ketakutan Disitu juga terdengar nyaring suara tangisan Leni.

   Wahyu mulai panik mendengarnya, ia bingung akan apa yang sedang terjadi. Ia pun bergegas menuju mobilnya dan mulai mengemudikannya secepat mungkin sambil terus mendengarkan pesan suara itu 1 per 1.

Dikirim pada jam 08:36
- Terdengar suara Merry sedang berbisik pelan seperti sedang bersembunyi dari sesuatu "Wahyu, kami takut!! Mereka hampir membunuh kami., Cepatlah pulang! Kami butuh bantu.." belum selesai ia berbicara tiba-tiba ia dan Leni berteriak nyaring "Aaaaaaaa!!!!!! Lepaskan aku!!! Jangan! Jangan ganggu dia!!" teriak Merry

Dikirim pada jam 08:49 pm
- "Aa.. Ayah.. Tolong cepat pulang..! Aku takut.." ucap Leni pelan ketakutan sambil menahan tangis.

  Tak lama setelah selesai mendengarkan semua pesan suara itu, ia pun ahkirnya sampai dirumahnya. Dengan perasaan panik ia segera berlari kedalam rumah, dan alangkah terkejutnya dia melihat isi rumahnya.

   Rumahnya sangat berantakan, buku-buku berserakan dilantai, Lampu gantung di ruang tamunya jatuh dan hancur berkeping-keping, serta banyak lukisan yang terjatuh ke lantai. Dan, Lukisan yang ia ambil dari rumah kosong itu ikut menghilang. Wahyu pun langsung teringat akan perkataan anaknya itu. Ia pun kembali berlari ke kamar Leni untuk memeriksa keadaan Leni dan Merry.

   Alangkah terkejutnya dia ketika sampai ke kamar Leni, dengan nafas yang tak beraturan, ia melihat adiknya Merry tergeletak lemas dilantai dengan tubuh penuh dengan luka lebam. Ia juga melihat ada bekas luka lebam dilehernya berbentuk seperti jari-jari tangan, Wahyu menduga ada yang berusaha membunuh adiknya itu dengan cara mencekiknya. Namun untungnya, Merry masih dalam keadaan hidup, ia hanya pingsan dan ia akan segera sadar.

   Wahyu pun teringat akan Leni, ia mencari Leni disetiap sudut rumahnya namun ia tidak dapat menemukan anak satu-satunya itu. Ditengah keputusasaan yang ia alami, tiba-tiba ia melihat sesesok anak laki-laki berseragam sekolah datang menghampirinya. Ia kaget serta takut, sebab anak itu tidak seperti anak biasa pada umumnya, wajah anak itu pucat pasi dan bajunya sangat kotor. Anak itu tidak lain dan tidak bukan adalah sesosok, hantu. Ini merupakan pertama kalinya Wahyu melihat hantu dengan kedua matanya sendiri.

   Namun ketakutannya itu perlahan sirna ketika ia melihat nama yang tertera di baju seragam hantu itu, disitu tertulis sebuah nama yang tak asing baginya. Deni, itulah yang tertulis disitu.. "I..inikah wujud Deni ? jadi dia, bukan hanya ada di imajinasi Leni" pikirnya dalam hati. Belum sempat kebingungannya terjawab, roh itu menggenggam tangannya dan mengajak wahyu untuk mengikutinya.

   "Tunggu, kemana kau akan membawa ku ?" tanya Wahyu. Roh itu hanya menjawabnya dengan sebuah kata, yaitu "Leni". Mendengar itu Wahyu tidaklah lagi ragu untuk mengikutinya, ia berfikir mungkin saja Deni ingin membantunya menemukan Leni.

  Tak lama kemudian sampailah mereka disebuah rumah kosong yang menyeramkan, tepat berada disebelah rumahnya. Roh itu mengajaknya untuk masuk kedalam, namun timbul rasa ketakutan di hati Wahyu. Tapi demi menyelamatkan anaknya ia memberanikan diri untuk melangkah masuk kedalam rumah itu.

   Suasana didalam rumah itu sangat menyeramkan, sangat jauh berbeda ketika ia dulu datang kemari untuk mengambil lukisan itu. Bagian dalam rumah itu sangat gelap dan kotor, semua barang-barangnya ditutupi dengan kain putih. Tak lama kemudian sampailah ia dan Deni didepan sebuah pintu kamar yang terkunci, lalu tiba-tiba saja Deni pun menghilang dari pandangan Wahyu, dan kini dia benar-benar "sendiri" didalam rumah menyeramkan itu.

  Tak membuang-buang waktu, ia pun membuka pintu kamar itu dan masuk perlahan ke dalamnya. Wahyu sangat terkejut ketika melihat kedalam ruangan itu, ia melihat lukisan yang dulu ia ambil dari rumah ini, dan sekarang lukisan itu sedang tergantung rapi diruangan itu.

   Ia pun sadar bahwa yang dikatakan anaknya itu memang benar adanya, ia menyesal. Andai saja ia mau mendengarkan Leni, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Lalu ia pun melanjutkan misinya untuk mencari Leni dikamar itu, dan kemudian ia melihat sebuah tangan tergeletak muncul dari bawah kolong ranjang. Ia kumpulkan semua keberaniannya lalu ia perlahan-lahan menunduk dan mengintip ke kolong ranjang untuk mengetahui siapa gerangan pemilik tangan ini. Dan,

  Teryata itu adalah tangan Leni, Leni sendiri sedang terbujur kaku tak sadarkan diri dibawah ranjang itu, dengan sigap ia tarik tangan anaknya itu untuk mengeluarkan anaknya dari bawah kolong ranjang. Tapi tiba-tiba, ada sepasang tangan menyeramkan yang menahan kaki Leni dan menarik masuk kembali Leni kedalam Kolong ranjang itu. Wahyu sangat kaget serta takut, ia pun melawan dan menarik sekuat tenaga badan anaknya itu dan tiba-tiba,

   Sepasang tangan yang tadinya menarik kaki Leni tiba-tiba saja melepaskan kaki Leni, sehingga Wahyu yang dari tadi sedang menarik kuat tubuh anaknya itu, terhempas kebelakang dan kepalanya membentur dinding dengan keras sehingga kepalanya mengalami pendarahan dan ia pun jatuh dan tak sadarkan diri.

   *****

   Keesokan paginya ia dan Leni ditemukan oleh Merry yang dibantu oleh warga sekitar. Mereka berdua pun dilarikan kerumah sakit dan beberapa hari kemudian mereka sadar dan kembali sehat.

  Dan semenjak itu Wahyu pun langsung membangun sebuah tembok tinggi untuk membatasi rumahnya dengan rumah kosong itu. Dan semenjak itu pula kini Wahyu percaya akan adanya, hantu. 

   Memang benar, terkadang untuk percaya akan suatu hal, kau tidak harus bisa merasakan & melihatnya untuk percaya.

~The End

Karya : Billiam Constani Leta.
Request cerita dari : azizahisti (instagram)






Selasa, 04 Agustus 2015

Cerita Seram

 


   Siang itu ketika hampir semua murid telah pulang, Erna mulai merasa bosan menunggu sendirian didalam kelasnya. Ia sedang menunggu Tina yang sedang ada kelas tambahan, mengingat kakaknya itu akan segera menghadapi UN. Namun, Rasa bosan yang dirasakan Erna pun sirna ketika dua orang gadis datang menemuinya.

Erna    : Syukurlah kalian datang, aku sudah menanti kalian dari tadi.
Vika    : Memangnya ada apa er ?
Erna    : Aku bosan menunggu kakak ku sendirian disini..
Linda  : Bagaimana kalau kami bercerita ? kau mau dengar ?
Erna    : Iya boleh-boleh, Cerita apa ?
Vika    : Kamu maunya cerita apa ?
Erna    : Entahlah.. Lin, boneka mu kok nggak ada kepalanya ?
Linda  : Ya... Seseorang merusaknya!!!
Vika    : Sabar Lin.. Bagaiman kalau cerita seram ?
Erna    : Mmm... Oke..
Vika    : Aku punya suatu cerita..

   "Pada suatu malam ada seorang gadis yang baru saja pulang kerumahnya dan ia kebelet ingin kencing. Lalu ia pergi ke kamar mandi namun disaat gadis itu akan masuk ke dalam, ia mendapati pintunya sedang dalam keadaan terkunci dan terdengar suara orang mandi dari dalam. Karna ia hanya tinggal berdua dengan kakaknya yang kebetulan bernama Linda, jadi ia pikir orang yang ada didalam kamar mandi itu adalah kakaknya.

   So, ia urungkan niatnya dan pergi ke kamar untuk ganti baju. Namun ketika ia sedang berjalan ke kamarnya, ia melihat Linda keluar dari dalam kamarnya sambil membawa boneka kesayangannya. Gadis itu kaget dan bertanya apakah ada tamu dirumah mereka dan kakaknya menjawab hanya ada mereka berdua saja didalam rumah. Timbul sebuah pertanyaan di kepala gadis itu, Jika kakaknya ada disini dan tidak ada tamu dirumah, lalu siapa yang ada didalam kamar mandi!

   Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah kamar mandi, gadis itu dan kakaknya kaget serta panik. Mereka menduga ada seseorang telah menerobos masuk ke dalam rumah mereka.

   Gadis itu bersama kakaknya segera berlari mengecek kamar mandi dan anehnya ketika mereka sampai, mereka mendapati pintunya tidak terkunci. Gadis itu heran karna sebelumnya ia yakin kalau pintu ini terkunci, ia pun memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar mandi namun, tidak ada siapapun disana.

   Ketika ia sedang memeriksa kamar mandi tersebut, tiba-tiba saja kakaknya berteriak dari luar kamar mandi. Ia pun keluar untuk memeriksanya, dan ia tidak percaya akan apa yang ia lihat.

   Lalu dua hari kemudian kedua kakak-kakak beradik ini ditemukan meninggal dunia didalam rumahnya dengan kondisi jazad yang mengenaskan. Ditemukan banyak luka tusuk diseluruh tubuh mereka dan harta benda mereka pun banyak yang menghilang. Dan sang pelaku hingga sekarang belum juga ditemukan."

Erna   : Oh, aku mengerti, ketika gadis itu keluar dari kamar mandi, ia melihat kakaknya telah terbunuh oleh pelaku?? Ya kan..?
Vika   : iya, dan ahkirnya setelah dengan susah payah melawan, gadis itu pun ikut terbunuh.
Erna   : ihh kasian sekali mereka dibunuh hanya karna harta. Semoga pelakunya segera tertangkap. Kalau cerita mu lin ?
Linda : Aku tidak punya cerita seram seperti cerita Vera. Tapi, aku punya sebuah cerita menyeramkan tentang sekokah ini!
Erna   : Cerita apa ?
Linda : Dulu...,

   "Sekolah ini dulunya adalah sebuah kompleks perumahan. Lalu oleh pemerintah, kawasan tersebut diubah menjadi sebuah Rumah Sakit dan menurut kabar yang beredar, banyak pasien serta keluarga mereka yang mengeluh mengalami kejadian-kejadian aneh ketika di rawat disitu.

   Salah satunya ialah banyak orang yang mengaku melihat dua orang gadis remaja yang menyeramkan sedang berjalan di lorong rumah sakit pada tepat tengah malam, salah satu gadis itu membawa sebuah boneka tanpa kepala yang berlumuran darah.

   lalu lama kelamaan karna suatu hal Rumah Sakit itu ditutup dan gedungnya dialih fungsikan menjadi gedung sekolah yang kamu tempati sekarang ini"

Erna   : Oohh.. Aku baru tau.. Apa cerita itu benar ??
Linda : Iya, banyak orang yang mengangapnua benar
Vika   : kalau kamu sendiri er, kamu punya cerita seram ??
Erna   : Aku ngg....

   Belum selesai Erna bicara, tiba- tiba datanglah Tina menghampiri Erna yang sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya itu. "Er, kamu ngapain disini sendirian ? Ayo pulang.." ucap Tina, Erna menjawabnya dengan sebuah senyuman manis tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

    Erna dan Tina pun keluar dari kelas itu, namun ketika mereka akan keluar, Erna sempat melambaikan tangannya kedalam kelas. Bagi orang-orang mungkin terlihat seperti Erna sedang melambai ke kursi kosong.. Namun berbeda dengan yang Erna lihat, kedua "temannya" ada disana sedang melambai balik kepadanya.

~The End~

Karya : Billiam Constani Leta



 




Jumat, 31 Juli 2015

Tiga Belas

 

   Malam itu disebuah rumah yang sederhana lebih tepatnya disebuah kamar, ada seorang gadis yang dalam beberapa menit lagi akan berulang tahun ke 13. Gadis itu bernama Anggie, ia tinggal bersama Yuni yang berusia 12 tahun lebih tua darinya.

   Ia berharap mendapat kejutan ulang tahun dari kakaknya tepat pada tengah malam nanti atau setidaknya mendapat ucapan selamat dari cowok idamannya di sosmed. Menit demi menit telah berlalu dan jam sudah menunjukan tepat pukul tengah malam, belum sempat ia mengecek smartphone-nya tiba tiba ia mendengar suara gaduh dari dalam lemarinya.

   Suara itu terdengar seperti ada orang yang berusaha keluar dari dalam lemari itu, lama kelamaan suara gaduh itu terdengar semakin kencang dan keras. Anggie sangat ketakutan mendengarnya, namun ia berfikir itu adalah ulah kakaknya yang berusaha untuk mengerjainya.

   Ia pun memberanikan diri untuk bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah lemari itu, dan ketika ia akan membuka lemari itu. Tiba-tiba saja suara gaduh itu menghilang dan suasana pun kembali menjadi sunyi.

    Sontak Anggie pun menjadi heran sekaligus takut. Bermodalkan rasa keingintahuan yang tinggi, ia pun perlahan membuka lemari itu dan memperbolehkan matanya untuk menoleh kedalam. Namun Anggie tidak percaya akan apa yang ia lihat, ia hanya melihat pakaian yang tertata rapi didalamnya, dengan kata lain tidak ada siapapun didalam lemari itu. Ia pun tahu bahwa itu bukanlah perbuatan kakaknya.

   Anggie kaget dan mulai panik, bagaimana bisa terdengar suara gaduh dari dalam lemari itu tanpa ada manusia atau hewan didalamnya. Imajinasinya semakin liar, dan dengan cepat ia mematikan lampu kamarnya dan pergi keatas ranjang, ia lalu memeluk guling kesayangannya dan menyelimuti dirinya dengan selimut.

   Tak lama kemudian ia mendengar ada suara aneh dari bawah ranjangnya, seketika ketakutannya semakin membesar, nafasnya berhembus dengan cepat dan tidak teratur, serta keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

   Ia mengintip dari balik selimutnya dan tiba-tiba, ia beserta ranjangnya terangkat ke udara dengan cepat dan kemudian terhempas jatuh ke lantai. Anggie pun kaget dan berteriak, lalu terbesit dipikirannya untuk segera keluar dari kamar itu.

   Namun ketika ia turun dari ranjang dan akan berlari, tiba-tiba ada sebuah tangan keluar dari bawah ranjang dan menarik kaki Anggie. Ia pun terjatuh dan kepalanya membentur lantai hingga berdarah. Dengan posisi tengkurap ia menoleh kebelakang dan,

   Ia melihat wanita dengan wajah hancur dan mata melotot sedang menarik kakinya dari dalam kolong ranjang, Anggie pun berteriak ketakuatan sambil terus meronta-ronta meminta untuk dilepaskan, dan dengan susah payah ahkirnya ia berhasil melepaskan tangan wanita menyeramkan itu dari kakinya dan kemudian ia berlari keluar dari kamarnya.

   Ia berlari keluar dan menemukan kakaknya yang juga sedang berlari menuju ke kearahnya. Ia pun mulai menangis dan menceritakan bahwa ada sesosok wanita menyeramkan didalam kamarnya. Namun, ketika mereka berdua kembali ke kamar Anggie untuk memeriksanya, mereka tidak menemukan siapapun di situ. Anggie yang masih ketakutan dan syok memilih untuk melewati malam di kamar kakaknya.

   Keesokan paginya mereka memanggil seorang pastor untuk membersihkan kamar itu dari hal-hal yang jahat. Dan semenjak itu ia tidak pernah lagi dihantui oleh makhluk tersebut, namun ketika malam tiba ia slalu dihantui oleh, perasaan takut.


~The End~

Karya : Billiam Constani Leta
 

 


Senin, 27 Juli 2015

Teman

 

   Vina, begitulah orang-orang memanggil ku, dan ini adalah kisah ku 5 tahun yang lalu ketika aku masih berusia 7 tahun. Saat itu aku mempunyai seorang teman perempuan dan kami slalu bermain bersama. Namun..., teman ku ini berbeda.

   Hari itu sedang cerah ketika sepasang suami istri pindah kesebelah rumah ku, aku melihat ada seorang anak perempuan keluar dari dalam mobil mereka. Perempuan itu tampak seumuran dengan ku, wajahnya cantik dan tampak ceria. Timbul niat dihati ku untuk berkenalan dan mengajaknya bermain bersama.

   Kami pun berkenalan dan namanya adalah Lina, ia memberitahu ku bahwa rumah lamanya hangus terbakar dan oleh karna itu, ia dan keluarganya pindah kesini. Setelah asik berbincang-bincang kami pun mulai bermain bersama didalam kamar ku.

*****

   Hari demi hari kami selalu bermain bersama, aku merasa sangat senang memiliki teman yang ramah dan baik hati seperti Lina. Namun tidak dengan kedua orang tua ku.

   Disaat aku sedang bermain mereka melihat ku dengan tatapan khawatir, mereka bertanya aku sedang bermain dengan siapa. Dan aku memperkenalkan mereka dengan Lina.

   Terlihat tatapan kaget serta khawatir dimata mereka dan mereka menjadi sering membawa ku pada seorang dokter. Dokter itu selalu menanyakan hal-hal aneh yang tak ku mengerti dan aku benci itu. Mereka pun mulai melarangku untuk bermain dengan teman ku Lina. Aku beranggapan mereka hanya khawatir karna aku kebanyakan bermain dan menjadi jarang belajar.

   Hingga datang hari dimana aku akan mengetahui dugaan ku itu, salah.

*****

   Pada suatu siang yang mendung, aku memutuskan untuk berkunjung kerumah Lina. Aneh rasanya karna kami sudah lama berteman namun aku belum pernah mengunjunginya.
Aku bertemu dengan ibu Lina dan bertanya dimana Lina berada karna aku ingin mengajaknya bermain.

   Ibu Lina kaget dan syok mendengar pertanyaan ku itu, ia balik bertanya dari mana aku bisa tahu tentang Lina Karna ia mengaku belum pernah menceritakan kepada warga sekitar bahwa ia mempunyai anak bernama Lina. aku pun menjelaskan semuanya kepada ibu Lina.

    Ia sangat kaget mendengar ucapan ku dan air mata mulai keluar dari matanya. Dengan perasaan sedih ia masuk kedalam kamarnya dan kembali keluar membawa sebuah foto. Terukir wajah Lina didalam foto itu,  disitu Lina terlihat sangat cantik.

   Ibu Lina mulai menjelaskan kepada ku bahwa Lina adalah anak yang cantik dan ceria, rambutnya hitam dan kulitnya putih. Namun semua itu sirna ketika ia wafat di panasnya api yang membakar rumahnya 3 bulan yang lalu. Aku kaget mendengarnya, aku tersadar bahwa slama ini teman yang slalu ku ajak bermain bersama, sudah meninggal.

   Ya, begitulah cerita ku, dan hingga sekarang orang-orang beranggapan teman ku itu tidaklah nyata. Namun, ia terlihat nyata bagi ku. 

   Tiba-tiba terdengar suara pelan memanggilku "Vin.. Vina.. Ayo main" ucap seorang gadis cantik. "Iya Lina sebentar" balas ku.

~The End~

Karya : Billiam Constani Leta(billi costan)


Jumat, 24 Juli 2015

"Ayah, Tolong Aku.."

 

   Malam itu disaat waktu sudah menunjukan tengah malam, Andi berteriak kencang dari dalam kamarnya. Teriakan anak berusia enam tahun itu terdengar hingga ke kamar ayahnya yang bernama Firza. Firza terbangun dari tidurnya dan dengan cepat pergi menuju kamar anaknya.

   Ketika sampai didalam kamar anaknya, ia mendapati Andi berada diatas tempat tidurnya sedang sembunyi ketakutan dibalik selimutnya. Firza pun bertanya kepada anak satu-satunya itu apa yang terjadi hingga ia berteriak nyaring.
"Ayah, ada monster didalam lemariku.. Aku takut" jawab Andi pelan. Agar anaknya tenang dan bisa kembali tidur, ia mengecek kedalam lemari dan,

   Ia melihat Andi lainnya didalam lemari itu sedang gemetaran dan ketakutan. Firza kaget serta bingung melihatnya, bagaimana bisa ada dua Andi yang mirip didalam kamar ini.

   Belum sempat kebingungannya terjawab, Andi yang berada didalam lemari itu melihat kearah Firza dan berbisik kepadanya. "A..Ayah, tolong aku.. Ada sesuatu yang menyeramkan diatas tempat tidur ku.." bisik Andi ketakutan.

   Mendengar hal itu kebingungan Firza semakin menjadi-jadi, didalam hatinya ia berfikir. "Jika yang didalam lemari ini adalah anak ku yang asli, lalu siapa tadi yang berada diatas tempat tidur ?" gumam Firza. Percikan-percikan ketakutan mulai tumbuh didalam hatinya, dan dengan perlahan ia menoleh kearah tempat tidur itu berada.

   Ia sangat kaget ketika Ia melihat sesosok yang menyeramkan sedang jongkok diatas tempat tidur anaknya, sesosok itu memiliki tubuh yang kurus, kepala botak dan mata yang melotot. Firza berteriak ketakutan, baru kali ini ia melihat hal-hal menyeramkan seperti itu. Tanpa pikir panjang ia langsung membawa Andi berlari keluar dari kamar itu, dan pergi ke kamar Firza.

   Mereka mengunci diri didalam kamar hingga pagi dan mereka terus berdoa sambil berharap makhluk itu tidak mengikuti sampai ke kamarnya.

*****

   Keesokan paginya Firza dan anaknya pergi kesalah satu rumah pemuka agama setempat dan ia menceritakan semua yang terjadi dirumahnya. Pemuka Agama itu langsung datang ke rumah Firza dan mendoakan rumah itu terutama kamar Andi, agar makhluk itu tidak mengganggu mereka lagi.

   Dan semenjak itu, makhluk meyeramkan itu tak pernah lagi menampakan dirinya didepan ayah dan anak itu. Namun, disaat tengah malam tiba, disaat bulan purnama muncul,  dam disaat dinginnya malam menusuk hingga ke tulang-tuilang, Firza selalu menemukan Andi tengah bermain sendirian dikamarnya dan ketika disuruh untuk kembali tidur Andi dengan polosnya menjawab "nggak mau, kami lagi asik main"


~The End~
 
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)


 

Selasa, 21 Juli 2015

Bertemu Kuntilanak



   Saat itu jam sudah menunjukan pukul 5 pagi dan Doni sudah terbangun dari tidurnya, ia bersiap melakukan jogging untuk pertama kalinya. Doni bertekad untuk menghilangkan lemak yang tertimbun di tubuhnya sejak lama, ia tidak ingin lemak-lemak itu menjadi pemicu munculnya penyakit serius di tubuhnya.

   Doni jogging di sekitar kompleks rumahnya, ia memilih jalanan yang cukup sepi dilalui oleh masyarakat karna ia tidak terlalu percaya diri untuk berolahraga di depan umum. Sudah lewat sepuluh menit semenjak ia bangun dan ia sudah siap untuk mulai jogging, ia pun mulai memacu kakinya menelusuri jalanan.

   Ia menjalaninya dengan penuh semangat, langkah demi langkah dan nafas demi nafas, sampai juga dia disebuah jalanan yang panjang dan sepi. Hanya ada beberapa rumah saja yang didirikan dipinggiran jalan itu, dan banyak pohon-pohon besar tumbuh menghiasi jalan itu. Karna lelah, Doni merasa tidak sanggup lagi menyuruh kakinya untuk terus berlari, ia memutuskan untuk berjalan kaki melewati jalanan sepi itu.

   Saat itu hari masih gelap, matahari belum menampakan sinarnya dan angin dingin terus berhembus hingga membuat Doni kedinginan.

   Disetiap langkah yang ia ambil Doni merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya, ia amati keadaan disekitarnya namun tidak ada siapapun disana. Hingga kedua matanya tertuju kepada sebuah pohon sawo yang cukup tinggi. Matanya terbelalak ketika melihat ada seorang wanita yang sedang duduk diatas pohon, wanita itu berpakian putih dan berambut panjang, wajahnya pucat dan begitu menyeramkan. Wanita itu mengeluarkan tawa yang mengerikan dan tawa itu memecah heningnya pagi.

   Doni berteriak kaget hingga terjatuh dan jantungnya mulai berdebar dengan sangat cepat. Ia bangkit berdiri dan mengkerahkan semua tenaga ia punya untuk berlari, ia berlari dan terus berlari hingga ia tersandung dan terjatuh, kedua lutut dan sikunya terluka..

   Ia memberanikan diri untuk menoleh kebelakang dan sesosok itu telah menghilang, namun ketika ia melihat kebelakang ia merasa ada segumpalan rambut menyentuh tangan serta lehernya dari depan. Dengan cepat ia menoleh ke depan dan,

   Sesosok wanita menyeramkan itu ternyata telah berdiri tepat didepannya, jantungnya semakin cepat berdetak, aliran darah didalam tubuhnya mengalir dengan cepat, mulutnya membuka dan berteriak dengan sangat kencang. Lalu Doni bangkit berdiri dan berlari menjauh ke arah sebaliknya sambil berteriak.

******

    Semenjak kejadian itu, Doni tidak trauma untuk melakukan jogging lagi. Ia malah termotivasi untuk lebih giat berolahraga agar ketika ia bertemu hantu lagi, ia bisa berlari menjauh dengan cepat. Dan ia memilih untuk tidak jogging atau lewat di kawasan itu lagi, karna tentu ia tidak ingin berhadapan dengan sesosok menyeramkan itu lagi, sesosok menyeramkan yang biasa disebut masyarakat sebagai, kuntilanak.

~The End~

Karya : Billiam Constani Leta ( Billi Costan)

 

Minggu, 19 Juli 2015

"Mimpi" Buruk



Lebaran telah berlalu, hari libur juga hampir usai. Tiba saatnya bagi Gina untuk pergi dari kampung halamannya dan kembali kepekerjaannya, pekerjaan yang tiada henti membuatnya stress.

   Gina pergi menaiki sebuah bis malam di stasiun yang tak terlalu jauh dari kampungnya. Ia naiki bis besar yang sudah dipenuhi penumpang lainya itu, dan ia duduk disebuah kursi kosong. Tak lama kemudian datang seorang pria tinggi besar duduk disebelahnya, tampang pria itu cukup sangar. Gina sedikit takut terhadap pria itu, ia takut pria itu akan berbuat sesuatu yang jahat kepadanya.

   Namun Gina ingat pada sebuah perumpamaan terkenal "Don't judge the book by the cover", ia pun berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk tidur karna ia akan menempuh perjalanan yang sangat jauh.

   ***

   Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, dan Gina pun terbangun dari tidurnya. Ketika ia membuka kedua matanya, bukannya melihat sekumpulan orang yang sedang tidur, ia malah melihat sekumpulan kursi kosong. Tidak ada satu pun orang didalam bis kecuali dia, supir dan penumpang lainnya hilang entah kemana. Awalnya ia berfikir bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan, namun dugaannya itu sirna ketika ia melihat keluar jendela dan mengetahui bahwa bis itu masih melaju di jalan raya yang sepi.

    Gina mulai merasa panik dan ketakutan, ia berlari ke bagian depan bis dan berusaha untuk menghentikan laju bis itu. Ia menginjak rem bis itu sekuat tenaga namun usahanya itu sia-sia, bis itu tetap terus melaju.

   Ditengah kepanikan yang ia rasakan, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Jantungnya mulai berdebar kencang, dan rasa takutnya semakin membesar. Ia memberanikan dirinya untuk melihat kebelakang, dan ia tidak percaya akan apa yang ia lihat.

   Ia melihat bis yang tadinya kosong sekarang sudah dipenuhi oleh segerombolan orang yang berjalan pelan mendekatinya! Bukan orang-orang biasa, tubuh orang-orang itu berlumuran  darah, wajah mereka dipenuhi luka-luka yang mengerikan, bahkan ada diantara mereka yang kehilangan salah satu anggota badannya.

   Ia berteriak kaget dan sangat ketakutan, tubuhnya mulai dipenuhi hormon adrenalin, dan otaknya sudah tidak bisa lagi digunakan untuk berfikir jernih. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara keluar dari bis hantu ini, lalu ia pun menjadi nekad. Dia coba untuk membuka pintu bis itu namun tidak bisa, dan ahkirnya ia memutuskan untuk memecahkan kaca jendela bis dengan tangannya hingga berdarah. Ia menarik nafas yang panjang lalu ia melompat dari bis yang sedang berjalan itu. Sebelum tubuhnya bersentuhan dengan kerasnya aspal, ia terbangun..

   Ia terbangun dengan ekspresi kaget, dan dengan nafas yang terengah-engah. Ia melihat sekitarnya dengan was-was, dan orang-orang menyeramkan tadi sudah tidak ada, yang ada hanyalah orang-orang yang sedang tertidur dengan lelap.
Namun ada suatu hal yang juga ikut menghilang..

   Pria yang tadi duduk disebelahnya juga ikut menghilang! Kepanikannya yang tadi mulai sirna, kini mulai muncul lagi.
Ia memeriksa seluruh barang bawaannya namun tidak ada satu pun barang yang hilang. Ia bertanya kepada penumpang yang duduk dibelakangnya kemana perginya orang yang duduk disebelahnya tadi,  namun penumpang itu menjawab tidak ada pria atau siapa pun yang duduk disebelahnya semenjak mereka berangkat dari stasiun.

   Gina sontak kaget mendengar hal itu, ia terdiam untuk beberapa saat. Lalu penumpang ini  balik bertanya kepada Gina, penumpang itu bertanya kenapa tanganya berdarah.
Gina ahkirnya sadar bahwa dari tadi tangannya berdarah. Dan ia teringat di dalam mimpinya ketika ia memecahkan kaca jendela dengan tangannya. Gina bingung akan apa yang sebenarnya terjadi, ia bingung mimpi itu apakah benar-benar mimpi atau kenyataan.

   Tanpa menjawab pertanyaan penumpang itu, ia kembali duduk di kursinya namun ia tidak bisa kembali tidur. Sambil mengobati tangannya, ia terus saja memikirkan kejadian itu hingga ahkirnya pagi tiba dan ahkirnya Gina sampai di tempat tujuan.

Semenjak itu Gina tidak pernah lagi bepergian menggunakan bis malam, ia trauma dengan kejadian itu.



 ~The End ~

Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
 



 

Kamis, 16 Juli 2015

Disaat Mati Lampu

 

   Malam itu, listrik sedang padam di daerah kost ku yang terletak dipinggiran kota. Dan yang kulakukan hanyalah duduk didepan kamar kost, menatapi terangnya bulan serta sekumpulan bintang yang tertata cantik di angkasa.

   Aku mulai merasa bosan, dan kuputuskan untuk berkunjung ke kost-an tetangga baru ku, Ajeng. Ajeng baru saja pindah 3 hari yang lalu ke kamar yang sudah lama kosong itu. Penghuni sebelumnya hanya bertahan selama 1 minggu, dan kemudian kamar itu kosong hingga berbulan-bulan sampai Ajeng datang menempatinya.

   Aku bangkit dari kursi, dan mulai melangkahkan kaki ke kamar Ajeng yang berada dipojokan kost. Kamar kost Ajeng bersebelahan dengan kebun warga sekitar, sebuah sungai dangkal menjadi pembatas diantara keduanya.

   Kupangil namanya namun tidak ada balasan, lalu ku ketuk pintu kamarnya. Ternyata pintu kamarnya tidak tertutup rapat, sehingga saat diketuk pintunya terbuka sedikit dengan sendirinya. Ku genggam ganggang pintunya dan ku buka lebar pintu itu dengan perlahan. Kamar itu terlihat sangat gelap, tak ada lilin atau alat penerang lainya yang menerangi ruangan itu.

   Sekali lagi kupanggil namanya namun tetap tidak ada jawaban. Kupijakan kaki ku kedalam kamar itu dan tiba-tiba, terdengar pelan suara wanita menangis dari dalam. Aku tersontak kaget dan berkata "Ajeng! Kau kah itu ? Apa kau baik-baik saja ?" dan sekali lagi tidak ada tanggapan sama sekali. Ingin rasanya kudatangi sumber suara itu, namun kaki ku enggan melakukannya. ku urungkan niat ku dan kembali ke kamar ku. "Ajeng mungkin sedang ada masalah dan tak ingin diganggu" gumam ku dalam hati.

***

   Waktu terus berjalan, dan tiba saatnya bagiku untuk tidur. Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh serta suara wanita menangis dari balik dinding kamarku, yang mana merupakan kamarnya Ajeng. Ku ambil sebatang lilin menyala dan kuletakan disebuah piring kecil, lalu pergi ke kamar Ajeng untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.

   Kubuka pintunya dan ku langkahkah masuk kakiku, dengan perlahan aku berjalan masuk. Semakin dalam aku masuk, semakin jelas terdengar suara tangisan itu. "Ajeng.." panggil ku, dan seketika ruangan itu menjadi sunyi, menyatu dengan sunyinya malam. Tangisan yang tadi menggema dirungan itu hilang seperti dibawa terbang oleh angin malam.

   Tiba-tiba terdengar sebuah senandung lagu dari dalam kamar mandi. Aku langsung menghentikan langkah ku, jantungku seperti mau copot dan keringat dingin mulai keluar dari dalam tubuhku. Bukan sebuah lagu biasa yang ku dengar, lagu ini cukup untuk membuat ku sangat ketakutan, lagu yang konon dipercaya dapat memanggil sesuatu yang tak terlihat...

Lingsir wengi silarmu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas ojo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sembarang
Wojo lelayu sebet

   Ingin sekali badanku untuk berlari keluar dari suasana menyeramkan itu, namun karna sifat keingintahuanku yang besar maka aku pun bertahan. Kupegang erat lilin yang kubawa lalu kubuka pintu kamar mandi itu. Kuberanikan mata ku untuk melihat kedalam dan,

   Tidak ada siapapun di kamar mandi itu, lagu yang tadi terdengar pun juga menghilang. Suasana kembali menjadi sunyi, namun suasana seperti itu justru membuat rasa takut ku semakin membesar. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas untuk pergi dari kamar angker itu, aku takut akan terjadi sesuatu yang menakutkan. Namun,

   Ketika ketika aku berbalik, aku melihat dengan kedua mata ku sesosok wanita berambut panjang, berpakaian putih dan melotot kearah ku sambil mengeluarkan tawa khasnya.

   Ingin mulut ini berteriak sekencang mungkin, namun rasa takutku yang sudah melebihi batas membuat mulutku bungkam. Jantung ku yang tadi hampir copot, sekarang sudah benar-benar copot. Keringat dingin yang mengalir keluar dari tubuhku, sekarang telah membanjiri raga ku.kaki ini pun tak kuat lagi kugunakan untuk berdiri, kesadaran yang kumiliki pun perlahan mulai menghilang. Dan pada ahkirnya aku jatuh pingsan.

***

  Terdengar samar-samar ada orang yang mengatakan "Fit..! Fitri!! Bangun fit..!". Kubuka perlahan kedua mata ku, terangnya lampu membuat mataku silau. Kulihat 2 orang wanita tampak panik melihat ku, mereka adalah Ajeng dan ibu kost. Mereka bertanya padaku apa yang terjadi, ku jelaskan semuanya pada mereka. Mereka tampak sangat takut dan kaget setelah mendengarnya.

   Ajeng menjelaskan bahwa ia tadi pergi jalan bersama temannya ketika listrik padam, dan ketika pulang ia menemukan ku tergeletak dikamarnya. Namun, ada satu hal yang ia tidak mengerti. Ia bingung bagaimana caranya aku bisa masuk, karna ia bilang ia mengunci rapat rumahnya ketika ia pergi. Sepertinya itu akan tetap menjadi misteri yang tak akan terungkap.

   Setelah membaik, aku pulang ke kamar ku tercinta. Sungguh pengalaman mati lampu yang mengerikan
 
~The End~

Karya : Billiam Constani Leta (Billiam Costan)
 
 
 

Rabu, 15 Juli 2015

Kuburan

   

   Sore ini aku dan seluruh keluargaku datang ke sebuah Taman Kuburan Muslim. Tentu saja bukan untuk bertamasya, melainkan untuk menguburkan kakek kami tercinta. Ia wafat pada siang hari tadi karna penyakit stroke yang sudah lama ia derita. Aku yang memakai dress hitam datang menaiki mobil bersama dengan kakakku serta sepupuku, Nina.

   Jam sudah menunjukan pukul 5 sore disaat kami bergegas menuju liang lahat dengan berjalan kaki. Tidak butuh orang ber-six sense untuk mengetahui bahwa kuburan ini menyeramkan, orang awam sepertiku saja bisa mengetahuinya.

   Bagaimana tidak ? Banyak pohon kering tumbuh di pinggir jalan setapak kuburan ini, daun-daun kering menyelimuti tanah yang kami pijak, dan banyak makam yang tak terurus sehingga banyak ilalang kering tumbuh disekitarnya.

   Sesampainya diliang lahat, jasad kakek segera dimakam kan, aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Ibu terus saja menangis tanpa henti hingga ia jatuh pingsan. Sontak semua menjadi panik termasuk aku, secara spontan ku taruh hape yang dari tadi ku pegang disebuah makam tempat aku berdiri. Lalu ku berlari kearah ibu dan berusaha menyadarkannya.
Ibu ahkirnya sadar, dan proses pemakaman jazad kakek kembali dilanjutkan. Selama proses pemakaman, ku rangkul ibunda dengan kedua tanganku untuk menenangkannya hingga pemakaman selesai.

   Saat itu hari sudah mulai senja, sanak saudara kami sudah banyak yang pulang karna suasana kuburan semakin menyeramkan. Namun tidak dengan ibuku, ia memaksa untuk
tetap tinggal disitu. Tentu ayahku serta kami tidak mengizinkannya, dan setelah dibujuk rayu akhirnya ibu mau pulang. Kami pun bergegas meninggalkan kuburan angker itu.

   Aku, Nina dan Kakakku, Berto pulang deluan lalu disusul oleh orang tua ku. Namun kami bertiga tidak langsung pulang ke rumah, kami sepakat untuk makan disebuah restaurant favorit kami.

***

   Jam sudah menunjukan pukul 06:12 pm.  Dan disaat sedang memakirkan mobil, sama seperti anak muda lainya, ingin aku mempost lokasi ku di facebook dan path bahwa aku sedang berada di sebuah Restaurant ternama. Namun.. Aku tersadar bahwa hape ku tidak ada bersama ku. Aku panik, sangat panik. Tidak butuh waktu yang lama bagi ku untuk menyadari bahwa hape ku tertinggal dikuburan.

   Hal pertama yang kutakutkan adalah kehilangan hape kesayanganku itu. Maka dari itu, kubujuklah berto dan nina untuk menemani ku kembali ke kuburan malam ini juga.
Jelas awalnya mereka tidak mau, tapi mau bagaimana lagi mereka tidak akan membiarkan ku kesana sendirian. Kami pun menahan rasa lapar dan segera meluncur kesana.

***

   Ketika kami sampai disana, kuburan itu terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Disitu sangat gelap, cahaya rembulan adalah satu-satunya yang menerangi kuburan itu. Kami bertiga memberanikan diri untuk berjalan masuk dengan berbekalkan cahaya LED Flash kamera hape Berto, hanya itu cahaya yang kami miliki.

   Suara jangkrik mengiringi langkah kami, dan disetiap langkah yang ku ambil, ketakutan di hati ku semakin membesar.

   "Aaaaaaaaa..!!!" teriakan nina memecah sunyinya malam di kuburan itu. Nina berteriak kencang sambil menunjuk ke salah satu pohon disitu, namun aku dan Berto tidak melihat apapun, entah apa yang Nina lihat, yang ku tahu itu pasti menyeramkan.

   Setelah Nina tenang, kami kembali melanjutkan perjalanan dan ketika hampir sampai di makam yang kami tuju, tiba-tiba saja hape berto mati dan tak dapat dinyalakan. Kami sangat panik dan ketakutan. Karna sudah sampai sejauh ini, kami putuskan untuk mencari hape ku dengan berbekalkan cahaya rembulan.

   Kami mencarinya dengan tergesa-gesa karna kami takut "mereka" akan menggangu kami dengan cara yang lebih ekstrim. Dan dugaan kami pun menjadi kenyataan, terdengar suara tawa wanita dari atas pohon. Jantung ku meledak karna kaget, dan mulutku berteriak dengan spontan.

   Kami sangat ketakutan, dan ahkirnya kami memutuskan untuk segera pulang tanpa membawa hasil. Kami berlari dalam kegelapan menuju mobil yang terparkir cukup jauh. Disaat berlari aku jatuh tersandung, rasanya sakit sekali. Aku menoleh kebelakang  untuk mencari tau apa yang membuatku tersandung. Dan ternyata,

   Aku melihat sesosok terbaring ditanah berbungkuskan kain kafan kotor dengan wajah hitam gosong. Apa lagi itu kalau bukan pocong !! Aku berteriak lalu bangkit berdiri menyusul saudara ku yang sudah ada di mobil.

   "Ayo cepati Vera!!" teriak berto. Dengan nafas terengah-engah dan mata berkaca-kaca ahkirnya aku sampai dimobil. Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung pergi dari kuburan mengerikan itu.

***

   Saat itu waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam disaat kami sampai dirumah. Aku langsung berlari memeluk ibu ku dan menceritakan semua yang terjadi. Aku bisa melihat perasaan tidak percaya dimatanya.

  Lalu tiba-tiba Ayah muncul dan berkata "Veraa, ini hape mu. Tadi ada penjaga kuburan yang menemuknnya dan memberikannya pada Ayah" "apa ??" ucap ku kaget.
Perasaan ku sangat kesal sekali karena usaha kami pergi kekuburuan ternyata sia-sia. Namun disisi lain aku bahagia karna hape ku tidak hilang. Sungguh pengalaman yang tak akan ku lupakan.

 ~The End~

Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
 

Senin, 13 Juli 2015

Sebelum Malam ke 40


   Langit berwarna jingga ketika adzan maghrib akan berkumandang, burung-burung terbang berhamburan di udara mencari tempat untuk bersarang. Dan tiba saatnya bagi manusia pulang ke rumah untuk berkumpul dan bercengkrama dengan keluarganya. Begitu juga yang dilakukan oleh Deni.

Deni  : Aku pulang..!
Ayah : Dari mana saja kamu nak ? Seharian kerjanya cuma keluyuran!
Deni  : Iya maaf yah, ibu mana ?
Ayah : Di dapur, lagi masak.
**
Deni  : bu, malam ini kita makan apa ?
Ibu    : ibu masak makanan kesukaan mu, capcay..
Deni  : asik, kalo gitu Deni ke kemar dulu ya.
Ibu    : ya, jangan lupa langsung mandi..
Deni  : yaa..

   Kamar deni terletak di lantai 2 bersamaan dengan kamar adiknya, Ririn. Saat itu langit sudah mulai gelap dan adzan telah berkumandang. Hembusan angin pelan yang masuk melalui jendela balkon, menyentuh bulu kuduk Deni hingga berdiri.

   Pelan-pelan Deni membuka pintu tua kamarnya dan, ia kaget melihat isi kamarnya...

Deni : Ririn!!  Ngapain kamu disini ?! Kan sudah kubilang jangan main di kamar ku!! Liat ini, semuanya jadi berantakan!
Ririn : Kamar kakak kan luas..! Jadi lebih seru mainnya..
Deni : Kalo mau luas ke lapangan sana. Sudahlah, keluar! (Ucapnya sambil menarik keluar ririn, lalu menutup pintu dan kemudian deni bergegas mandi)

**

   Selesai mandi dan berpakian, Deni turun ke bawah untuk makan malam.

Ayah : Den...
Deni  : ya, kenapa yah  ?
Ayah : mmm.. Ayah, Ibu mu, dan Ririn beberapa hari lagi akan pergi. Kamu nggak apa-apakan dirumah sendiri ? Atau kamu bisa tinggal dengan Tante mu kalau kau mau..
Deni  : Ayah tidak usah khawatir.. Deni kan sudah besar, Deni bisa mengurus dan menjaga diri sendiri. Memang kalian mau pergi kemana ?
Ibu    : Tempat yang jauh.. (bisiknya sambil tersenyum manis)
Ririn  : Kak, Ririn minta maaf ya sudah sering bikin kakak kesal.
Ayah, Ibu, dan Ririn : Kami menyayangi mu.
Deni  : ...... Aku juga sa....

   Belum selesai Deni melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ia langsung berdiri dan membuka pintunya

Deni : Tante ???
Tante : Apa kabar mu Deni ?? (katanya sambil memeluk Deni)
Deni : Baik, silahkan masuk tante.. Ayo kita kemeja makan, kita makan sama-sama dengan Ayah, Ibu, dan Ririn. Ibu ku sudah masak makanan..
Tante : Apa ??! (hening sejenak) Sini-sini duduk, apa tadi yang kamu bilang ?!
Deni : eemmm.. Makan malam.. Sama ayah, ibu, dan.. Ririn.

   Tante deni sangat terkejut mendengar itu. Dengan mata berkaca-kaca, dan sambil memegang kedua tangan Deni, ia berkata...

Tante : Deni... Apa kau tidak ingat..? Ayah mu, ibu mu, dan Ririn.. Mereka sudah lama Meninggal..!!! Bahkan tante kesini ingin membahas persiapan acara 40 harinya mereka..!

   Deni menatap Tantenya dengan perasaan tidak percaya, Namun, sedikit demi sedikit dia ingat dan sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Ia sadar sebulan yang lalu ia berserta Ririn, Ayah, dan Ibunya mengalami kecelakaan, namun hanya dia yang berhasil selamat.

   Lalu Deni menoleh kemeja makan dan.., tidak ada siapa-siapa disana.. Deni mulai termenung dan air mata mulai keluar dari matanya. 

Tante : Deni... Kamu baik-baik saja ?? Hmm.. ? (Ucapnya heran).

   Deni tidak bisa berkata sepatah kata apapun.. Melihat kondisi Deni yang sepertinya masih tertekan oleh kejadian itu, Tantenya pun memeluk Deni dan berusaha menenangkannya. 

   Memang betul kata orang, sebelum malam yang ke 40 mereka masih ada disekitar kita..

~The End~

Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
 






Sabtu, 11 Juli 2015

Menginap Dirumah Sahabat



Malam ini Kiki, Rara, dan Dewi berencana untuk menginap di rumah Sela, mereka berempat bersahabat. Para remaja ini sudah biasa menginap bersama, namun ini pertama kalinya mereka menginap di rumah Sela. Setelah dibujuk dengan susah payah, ahkirnya Sela mau rumahnya dijadikan tempat menginap. Sebelumnya Sela slalu menolak dan bahkan sedikit marah bila sahabat-sahabatnya itu ingin menginap dirumahnya.

   Bulan sudah bersinar dan bintang-bintang mulai menampakan dirinya. Kiki, Rara, serta Dewi telah sampai dirumah Sela, rumahnya cukup sederhana untuk ditinggali sebuah keluarga kecil. Ketika menginjakan kaki dirumah tersebut, mama Sela langsung menyuguhkan makan malam yang sangat menggugah selera. Mereka semua makan dengan nikmat hingga kenyang.

   Selesai makan mereka berempat menuju ke kamar Sela yang terletak dilantai dua. Kamar Sela tidaklah besar, hanya ada ranjang, sebuah lemari kecil, dan beberapa foto di dinding. Sahabat-sahabatnya berfikir mungkin ini alasan mengapa Sela tidak mau rumahnya dijadikan tempat menginap.

   Malam semakin larut, setelah puas berbincang dan bercanda bersama, mereka semua bergegas untuk pergi tidur. Karna kamar Sela tidak muat untuk ditiduri oleh mereka semua, maka Sela tidur di kamar ibunya yang terletak dilantai satu, dan yang lainnya tidur di kamar Sela. Saat berada di kamar ibunya, Sela sangat khawatir meninggalkan sahabat-sahabatnya tidur dikamarnya.

*****

   Beberapa jam telah berlalu, semuanya tidur nyenyak kecuali Kiki. Ia terbangun didinginnya malam, Kiki merasa ada sesuatu di kamar itu yang terus mengganggunya. Tiba-tiba jendela kamar berbunyi seperti ada yang melempar batu kerikil dari luar kamar. Awalnya Kiki tidak merasa terganggu oleh hal itu, namun kejadian itu terus berulang kali terjadi sehingga membuat Kiki mulai takut.

   Kiki mengumpulkan semua keberaniannya yang tersisa dan mencoba bangkit dari tempat tidur untuk mengintip keluar jendela. Kiki mulai menurunkan kaki kanannya ke lantai dan, tiba-tiba sebuah tangan menyeramkan muncul dari bawah kolong tempat tidur dan mencengkram kaki Kiki dengan sangat kuat. Kiki sangat kaget dan takut hingga ia berteriak kencang, dia berusaha melepaskan tangan itu dari kakinya.
Setelah lepas, kiki berusaha membangunkan kedua sahabatnya namun tidak ada yang bangun. Kiki yang sedang panik, dibuat sangat ketakutan dengan sesosok nenek tua yang muncul dari bawah kolong tempat tidur.

   Kemudian nenek ini dengan perlahan merangkak menaiki ranjang dan langsung mencekik leher Kiki dengan tangan keriputnya. Nenek ini menatap tajam mata kiki, kiki bisa melihat ada kemarahan di mata nenek tua ini. Kiki kesulitan bernapas dan ia terus meronta-ronta sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan nenek ini, hingga.....

   "Aaaaaaaaaaaaa....!!!" teriak Kiki nyaring ketika ia bangun dari, "mimpinya". Kedua sahabatnya terbangun mendengar teriakan itu, begitu pun juga dengan Sela dan mamanya, mereka berdua langsung bangun menuju kamar sela. Ketika mereka sampai, mereka melihat Kiki dalam keadaan syok, nafasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi pakaiannya, matanya merefleksikan ketakutan yang amat besar, dan dileher serta kakinya terdapat bekas luka seperti bekas dicekik. Ketika ditanya pun Kiki tidak merespon, mama sela bertanya kepada Rara dan Dewi namun mereka pun tidak tau apa yang terjadi.

   Sela hanya terdiam takut melihat kondisi Kiki. Sela tidak mau rumahnya dijadikan tempat menginap karna ia takut hantu yang ada dirumahnya akan menghantui sahabatnya. Namun apa daya, hal yang Sela takutkan pun telah terjadi.

   Kemudian Kiki langsung dijemput oleh ayahnya dan dibawa ke rumah sakit. Rara dan Dewi juga dijemput oleh kerabat mereka masing-masing. Semenjak kejadian itu tidak ada lagi diantara mereka yang ingin menginap di rumah Sela terutama, Kiki.

~The End~

Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)



Jumat, 10 Juli 2015

Sesosok Wanita Misterius

 
 .
   Langit sedang marah ketika lisa bersiap pulang dari kerja lemburnya pada jam 10 malam, petir memamerkan cahayanya dengan membelah langit malam yang sangat gelap disertai dengan suara gemuruh yang sangat keras hingga menggetarkan hati orang yang mendengarnya dan angin berhembus kencang hingga pohon pun dibuat menari olehnya.

   Jalanan sedang sepi waktu itu, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Lisa mulai memacu motor bebeknya dengan cepat karna pada saat itu, butiran-butiran air sudah mulai turun dari langit.

   Namun, ditengah perjalanan pulang ada seorang wanita keluar dari semak-semak di pinggir jalan lalu berlari ketengah jalan dan berusaha menghentikan laju kendaraan lisa. Lisa yang melihat wanita itu langsung menginjak rem motornya, karna tentu ia tidak ingin menabrak wanita ini.

   Dengan perasaan kesal Lisa membuka kaca helmnya dan bertanya kepada wanita itu, apa maksud dari tindakannya tersebut. Wanita ini meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia sedang butuh tumpangan untuk pulang. Awalnya Lisa tidak mau, karna malam sudah semakin larut dan terlebih ia tidak mengenal wanita ini, namun wanita ini terus memohon kepada Lisa untuk diantarkan pulang. Setelah mengetahui rumah wanita ini tidak terlalu jauh dari rumahnya dan karna merasa sedikit iba ahkirnya Lisa mau mengantarkan wanita ini pulang.

   Tidak ada hal aneh yang terjadi diperjalanan, dan mereka sampai dirumah sederhana wanita ini dengan selamat. Tanpa berfikir panjang, Lisa bergegas pulang kerumahnya. Namun, disaat Lisa hendak tancap gas, wanita ini memegang pundak lisa dan mengucapkan terima kasih dengan nada suara menyeramkan. Lisa menoleh ke arah wanita itu dan alangkah kaget dan takutnya dia melihat wajah wanita itu berlumuran darah dan wanita itu tersenyum dengan mata merah melotot ke arahnya.

   Lisa berteriak dan dengan panik ia mulai menarik pedal gas motornya sekuat mungkin, dan ia terus melaju hingga membelah rintik rintik hujan dan angin kencang yang disertai petir dan gemuruh. Sesampainya dirumah, ia lekas mandi dan pergi kekamar untuk langsung tidur, didalam hatinya ia berdoa agar wanita itu tidak mengikutinya sampai kerumah. Karna terus mengingat kejadian itu, Lisa pun terjaga hingga pagi.

   Ingin rasanya ia minta izin kekantor untuk tidak masuk sehari, namun karna tuntutan kerja, ia tetap harus masuk walaupun ia masih sedikit takut bila bertemu sosok wanita tersebut lagi.

   Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, Lisa pun segera berangkat ke kantornya. Ketika ia sampai di tempat dimana ia bertemu dengan "wanita itu", ia melihat banyak orang berkerumun. Lisa menghentikan laju motornya, dan ia bertanya kepada salah satu warga tentang apa yang terjadi. Warga itu menjawab bahwa semalam telah ditemukan sebuah mayat korban kecelakan lalu lintas di semak semak itu dan sekarang polisi sedang menyelidiki TKP.

  Lisa tertegun mendengar hal itu,  dan dia bertanya lagi kepada warga tersebut, apakah mayat korban masih ada disitu apa tidak. Warga itu menjawab mayat itu sudah dibawa kerumah sakit untuk diotopsi, namun warga itu mengaku ia sempat memotret korban dan ia menunjukan foto tersebut kepada Lisa.

   Alangkah terkejutnya Lisa melihat korban yang ada didalam foto tersebut adalah wanita yang sama dengan wanita yang ia antar semalam. Jasadnya ditemukan bersamaan dengan motornya.

  Lisa yang masih dalam keadaan syok, melepaskan tuntutan kerjanya dan segera bergegas pergi ke rumah tempat ia mengantar wanita itu, dan setelah sampai disana, terdapat bendara kuning tergantung didepan rumah itu. Lisa lalu bertanya dengan warga sekitar dan ia menemukan fakta bahwa rumah tersebut adalah rumah kedua orang tua dari jasad yang ditemukan dipinggir jalan itu.

   Ketika tengah mendengarkan cerita warga, Lisa melihat wanita itu berdiri didepan pintu rumah tersebut sambil tersenyum manis kepadanya, Lisa pun membalas senyum itu dengan ragu ragu. Setelah itu Lisa pergi menuju ke kantornya walau dia tau kalau dia sudah terlambat.

   Diperjalanan Lisa terus memikirkan wanita itu. Lisa pun paham mengapa wanita itu memintanya untuk mengantarkan ia pulang ke rumah tersebut, karna arwah wanita itu ingin "berpamitan" dengan Ibu dan Ayahnya untuk terahkir kalinya.

   Lisa kembali menjalani hidupnya tanpa ada rasa menyesal dan takut karna telah menolong sosok tersebut.


~The End~

Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)