Senin, 31 Agustus 2015

Menjadi Korban & Tersangka

 
   Langit malam sedang "sepi" waktu itu, tidak ada satu pun bintang yang menemani bulan menyinari bumi. Angin berhembus dengan kencang hingga menembus kedalam jaket Nino, dinginnya malam pun bisa ia rasakan dengan jelas di kulitnya.

   Saat itu Nino sedang mengendarai sepeda motornya menuju salah satu rumah pembeli toko online bosnya, ia ditugaskan untuk mengantarkan pesanan si pembeli. Ia lakukan pekerjaan ini untuk menambah uang saku kuliahnya, ia tidak bisa terus-terusan mengandalkan uang dari kedua orang tuanya untuk bertahan hidup.

***

   Ketika sampai, ia ketuk pintu rumah besar itu sambil berteriak "paket" dan tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam rumah memanggilnya untuk masuk kedalam. Suara itu terdengar seperti suara seorang pria dan tanpa ada rasa curiga, ia pijakan kakinya masuk kedalam rumah itu. Sumber suara tersebut terdengar dari dalam sebuah kamar yang tak jauh dari pintu rumah, ia pun berjalan mendekat kedepan pintu kamar itu.

   Ia ketuk pintu kamar tersebut namun tidak ada tanggapan, dan tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya. Nino kaget, lalu dia pun memberanikan dirinya untuk mengintip kedalam kamar itu. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika melihat isi kamar itu..

   Ada seorang gadis, lebih tepatnya jasad seorang gadis tergeletak dilantai. Terdapat banyak luka tusuk di jasad gadis itu, dan darah segar mengalir keluar dari lukanya. Darah itu membanjari lantai kamar dan juga mengeluarkan aroma tak sedap.

   Nino sangat ketakutan, detak jantungnya berdebar sangat cepat dan nafasnya mulai berhembus tak beraturan. Dengan sigap ia berlari menuju pintu rumah itu untuk segera keluar. Namun, sebelum ia menggapai pintu itu, tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya dari belakang hingga ia terjatuh.

   Ia menoleh ke belakang dan jantungnya pun terasa seperti telah meledak, bagaimana tidak ? Ia melihat seorang pria tua berdiri dibelakangnya sambil membawa sebuah pisau yang berlumuran darah. Pria itu bertanya kepada Nino dimana paket pesanannya, lalu dengan ketakutan Nino memberikan paket itu kepadanya.

   Pria itu membuka isi paketnya dihadapan Nino dan ternyata isi dari paket itu adalah, sebuah tali. Pria itu tersenyum sambil menatap tajam kearah Nino. "Kau sudah mendapatkan paket mu, biarkan aku pergi!!" teriak Nino. Pria itu menjawab dengan perlahan "Aku baru saja membunuh seseorang, dan tentu saja aku tidak ingin ketahuan.. Jadi, aku butuh seseorang untuk, disalahkan"

   Nino sangat kaget mendengar perkataan pria itu, ia pun kembali bertanya "A.. Apa maksud mu ?" Pria itu menjawab dengan nada keras "Dasar bodoh! Aku akan membuat seolah-olah kamu yang telah membunuh gadis itu" "Aku akan menempelkan sidik jari mu ke jasad gadis itu, kemudian aku akan mengantung tubuh mu dengan tali ini, sehingga polisi akan mengira kau depresi dan bunuh diri" lanjut pria itu.

   Nino sangat ketakutan, ia pun bangkit berdiri dan mencoba untuk membuka pintu rumah itu, namun pintu itu terkunci. Dari belakang pria itu dengan cepat melilitkan tali yang ia pesan ke leher Nino. Nino sempat melawan, namun apadaya, lilitan dari tali itu membuatnya sulit bernafas dan kesadarannya pun sedikit demi sedikit mulai menghilang.

    Dalam sekejap timbul sebuah ide di kepala Nino, ia menarik nafas sekuat mungkin lalu ia berpura-pura diam tak sadarkan diri dan ia menahan nafasnya. Pria itu mengira bahwa Nino telah tewas, ia pun melonggarkan lilitan talinya sehingga Nino bisa kembali bernafas. Pria itu lalu menyeret tubuh Nino kedalam kamar dimana gadis itu dibunuh.

   Ketika ia dibawa masuk kedalam kamar, tercium bau busuk menyengat yang keluar dari jasad gadis itu. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak muntah dan bergerak. Jika ia menggerakan satu jari saja, penyamarannya akan terbongkar dan nyawanya akan ikut hilang.

    Nino bernafas dengan sangat pelan agar tidak ketahuan dan akhirnya pria itu keluar juga dari dalam kamar. Dengan sigap Nino bangkit berdiri dan melepaskan tali yang melilit lehernya. Ia pun bersembunyi di balik pintu kamar itu.

    Ketika pria itu masuk ke kamar, pria tersebut terkejut melihat tubuh Nino sudah tidak ada. Tanpa membuang-buang waktu, Nino keluar dari persembunyiannya dan melilitkan tali keleher pria itu.

   Ia lilitkan tali itu dengan sangat kencang keleher pria tersebut hingga pria itu kesulitan bernafas. Pria itu meronta-ronta kehabisan nafas dan pada akhirnya, pria itu diam dan tidak bergerak.

  Untuk memastikan apakah pria itu benar-benar tewas, ia meraih sebuah pisau dan menusukan pisau itu ke tubuh pria tersebut berulang kali. Air mata mengalir keluar dari mata Nino, ia kesal, sedih dan sekaligus senang, semuanya tercampur menjadi satu. Ia tak menyangka bahwa ia telah membunuh seseorang. Ada rasa menyesal di hatinya, namun ada rasa senang juga karna ia telah selamat dari pria itu.

   Sebelumnya Nino adalah seorang korban, namun kini, ia menjadi seorang korban sekaligus seorang tersangka.

***

   Keesokan harinya Nino ditangkap oleh polisi dan dibawa ke pengadilan. Ia telah menjelaskan semuanya pada hakim, namun ia tetap ditahan atas tuduhan pembunuhan. Sungguh malang, aksi mempertahankan dirinya dari ancaman dianggap bersalah oleh hakim. Pantaskah dia dihukum ?

   Terlepas dari itu semua, hendaknya kita untuk selalu berhati-hati dan jangan lupa untuk berdoa pada Tuhan meminta perlindungan, cause bad things can happen in anywhere & anytime.

 



 

 

Minggu, 23 Agustus 2015

Tumbal

 

   Pada suatu malam, seorang pemuda datang ke sebuah motel tua untuk menginap. Motel itu bersebelahan dengan Rumah Makan yang cukup ramai di kunjungi oleh pengunjung.

   Ketika Pemuda itu sedang check in, sang resepsionis memperingatkanya akan suatu hal, "Jangan pernah masuk ke kamar nomor 10! Jangan Pernah!" ucap resepsionis. Pemuda itu bertanya kenapa, namun wanita itu tidak menjawab. Pemuda itu pun pergi membawa perasaan heran.

   Disaat pemuda itu menelusuri lorong motel untuk mencari kamarnya yang bernomor 9, ia bertemu dengan seorang gadis. Gadis itu memperingatkannya untuk segera pergi dari motel itu, namun pemuda itu tidak menghiraukannya. Beberapa detik kemudian ia bertemu dengan orang lain yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh si gadis tadi dan begitu seterusnya. Setidaknya ia bertemu dengan 6 orang berbeda yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh si gadis tadi.

   Ketika ia sampai di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar bernomor 10, tiba-tiba saja ada seorang wanita tua datang dan menyapanya. Wanita itu mengaku sebagai pemilik motel ini dan juga sebagai pemilik Rumah Makan disebelah. Wanita itu mengajak si pemuda untuk berbincang-bincang sebentar.

   "Apakah kau memiliki keluarga atau teman dikota ini ?" tanya wanita itu. Pemuda itu pun menjawab "Tidak, saya baru tiba di kota ini tadi sore untuk merantau mencari pekerjaan".

   Wanita tua itu kembali bertanya "Lalu bagaimana jika kau hilang atau semacamnya? Akan butuh waktu yang lama bagi keluarga mu untuk menyadari bahwa kau telah hilang". Dengan sedikit kesal pemuda itu menjawab "Maaf, apa maksud anda mengatakan itu ?"  "Bukan apa-apa. Selamat malam dan semoga malam mu menyenangkan" jawab wanita itu sambil terus berjalan menjauh darinya. Pemuda itu pun tak ingin ambil pusing, maka ia langsung bergegas untuk tidur.

***

   Malam semakin larut ketika si pemuda terbangun dari tidurnya. Ia terbangun karena mendengar suara sepasang suami sedang bertengkar, suara itu berasal dari kamar bernomor 10 yang terletak disebelah kamarnya.

   Semakin lama suara pertengkaran suami istri itu terdengar semakin keras, sang istri pun berulang kali berteriak minta ampun kepada suaminya. Hingga puncaknya ketika sang istri berteriak nyaring meminta tolong. Tergeraklah hati sang pemuda itu untuk mengecek keadaan sang istri.

   Ia pun keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar bernomor 10 itu, namun tidak ada tanggapan. Justru suara teriakan sang istri semakin nyaring terdengar, namun anehnya tidak ada orang lain di motel itu yang menyadarinya kecuali pemuda itu.

   Ingin ia mendobrak masuk pintu kamar itu, namun ada keraguan dihatinya. Ia teringat akan peringatan yang diberikan oleh resepsionis. Ia pun mengintip kedalam melalui lubang kunci untuk memastikan keadaan sang istri.

   Alangkah terkejutnya dia ketika melihat sang istri sedang dicekik oleh suamiya sendiri. Pemuda itu pun menghapus rasa keraguan di hatinya dan memberanikan diri untuk mendobrak pintu kamar itu.

   Ia dobrak pintu berulang kali dan akhirnya pintu itu terbuka. Dengan sigap ia langsung masuk ke kamar itu untuk menyelamatkan sang istri. Namun ketika ia masuk kedalam, ia tidak percaya akan apa yang ia lihat.

   Ia hanya melihat sebuah ruangan kosong tak berpenghuni. Ruangan itu kosong, tidak ada satu pun orang didalamnya kecuali dia seorang. Dan tiba-tiba saja pintu kamar itu tertutup dan terkunci, pemuda itu pun terkurung didalam kamar itu sendirian.

   Detak jantungnya berdebar dengan cepat dan nafasnya mulai berhembus tak beraturan. Ketakutan yang ia rasakan pun semakin menjadi-jadi ketika sesosok wanita menyeramkan keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan mendekatinya.

  Wanita itu memiliki rambut hitam yang sangat panjang, pakaian wanita itu berwarna merah darah, dan wajah wanita itu penuh dengan bekas luka sayatan pisau. Jelas wanita itu bukan manusia. Wanita itu berjalan perlahan mendekati si pemuda dengan mata menatap tajam kearah pemuda itu.

   Pemuda itu sangat ketakutan, ia berusaha membuka pintu kamar itu sambil terus berteriak nyaring. Namun usahanya itu sia-sia, tidak ada satu pun orang yang datang menolongnya.

  "Si.. Sii.. Siapa kau ini?" tanya pemuda itu ketakutan. Sesosok wanita itu tersenyum licik dan kemudian menjawab "Aku adalah ajal mu!" Sosok wanita itu pun kemudian berlari dengan cepat kearah pemuda yang dari tadi berterik itu dan seketika suasana kembali menjadi sunyi dan tenang.

***

   3 Jam kemudian Wanita pemilik motel dan resepsionis masuk kedalam kamar bernomor 10 itu. Mereka berdua melihat si pemuda sudah tewas tergeletak di lantai  dan darahnya membanjiri lantai kamar itu. "Cepat bersihkan ruangan ini dan bawa mayatnya ke dapur Rumah Makan disebelah, disana koki akan memasaknya untuk para pembeli" ucap wanita itu kepada resepsionis. Si resepsionis pun segera melakukan tugasnya.

   Lalu wanita itu masuk kedalam kamar mandi dan berkata "Apa kau suka dengan tumbal yang ku berikan pada mu ini?" dan tiba-tiba saja dari dalam kegelapan malam, terdengar suara menjawab "Ya!! Dan jangan lupa 4 bulan lagi kau harus membawakan yang baru untuk ku". "Baiklah, selama kau terus membuat Rumah Makan ku ramai dikunjungi pembeli, akan ku carikan tumbal yang baru untuk mu. Selamat malam"


*The End*

Karya : Billiam Constani Leta

 

Minggu, 16 Agustus 2015

Pembunuh

  
   Selvi, begitulah biasanya orang-orang memanggil ku. Umur ku baru saja menginjak usia 7 tahun dan hari ini aku kembali tinggal di panti asuhan, setelah kedua orang tua yang mengadopsi ku tewas terbunuh. Dan kematian mereka ada hubungannya dengan Girza, hantu penunggu panti asuhan ini. Dulu ia kuanggap sebagai teman, namun sekarang berbeda, aku membencinya..

   Saat itu Girza datang ke kamar ku pada tengah malam, ia datang membujuk ku untuk kembali tinggal di panti asuhan bersamanya. Namun semenjak 3 tahun yang lalu aku diadopsi, aku sudah merasa nyaman dan bahagia tinggal bersama dengan keluarga angkat ku, maka ku tolaklah ajakannya. Ini bukan pertama kalinya ajakannya ku tolak, sejak pertama kali aku pindah ke rumah berlantai dua ini pun, ia sudah mulai membujuk ku untuk kembali tinggal di panti.

   Namun Girza pantang menyerah, pada malam-malam berikutnya, disaat aku sedang lelah karna menjalani aktivitas baru yaitu bersekolah, ia selalu datang mengajak ku bermain, serta membujuk ku untuk kembali ke panti. Awalnya ia datang hanya beberapa kali saja dalam seminggu tapi kini ia menjadi lebih sering muncul dan mulai menggangu aktivitas ku. Aku pun mulai merasa jenuh dan terganggu oleh keberadaannya, perlahan amarah pun mulai tumbuh didalam hati ku.

   Hingga pada ahkirnya, disaat kesabaran ku sudah mencapai batasnya, Aku berkata dengan tegas kepadanyan "Girza! Aku tidak bisa bermain dan bertemu dengan mu lagi! Aku sudah lelah dengan semua ini!" ucap ku. Seketika terlihat ekspresi kaget di wajahnya,  terpancar perasaan kecewa dan marah dari matanya, ia pun diam sejenak dan berkata "Apa orang tua mu itu yang menyuruh mu mengatakannya?!" tanya Girza kesal. "Apa? Ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka" jawab ku. "Ahhh!! Aku tau seharusnya aku bunuh mereka dari awal" ucap Girza Kesal. Sontak aku kaget mendengarnya dan tiba-tiba saja ia menghilang.

   Kata-katanya itu membuat mata ku tak bisa kuajak untuk kembali tidur, kata-kata itu terus bergentayangan di kepala ku, kata-kata itu juga membuat hati ini menjadi cemas dan takut, hati ini takut bila Girza akan berbuat sesuatu yang buruk terhadap kedua orang tua ku. Dan hal yang kutakutkan pun terjadi..

******

   Keesokan malamnya sekitar pukul delapan malam, aku dan ayah ku sedang menonton televisi di ruang keluarga, ibu ku sedang mandi dikamarnya, dan mbok Siti sedang memasak di dapur. Tiba-tiba saja Girza mucul, ia menatap ku dengan tajam dan tersenyum licik, lalu ia pergi berjalan ke dapur. Aku pun mengikutinya, namun ketika aku sampai di dapur, aku tidak melihat Girza disana, namun aku hanya melihat mbok Siti sedang berdiri diam dengan tatapan kosong. Kupanggil mbok Siti namun ia tidak menjawab. Perlahan ia meraih pisau dan berjalan ke ruang keluarga.

   Aku bertanya dalam hati apa yang sedang dan akan dilakukan oleh mbok Siti, butuh waktu sejenak bagi ku untuk menyadari bahwa, dia sedang kesurupan oleh Girza dan mungkin saja ia akan mencelakai kedua orang tua ku, atau bahkan lebih buruk, membunuh mereka. Kaki ini langsung berlari untuk menghentikan mbok, namun terlambat. Dari kejauhan aku melihat mbok mengangkat pisaunya dan menghembaskannya ke leher ayah dari belakang.

   Darah segar mengalir keluar dari leher ayah dan membasahi sofa yang didudukinya, tak berhenti disitu, ia menusuk-nusukan pisaunya ke badan ayah berulang kali. Ingin mulut ini berteriak, tapi melihat peristiwa itu membuat mulut ku bungkam. Hanya air mata dan ekspresi kaget yang bisa menggambarkan kondisi ku saat itu.

   Tak sanggup lagi mata ini melihat kejadian itu dan tanpa sepengetahuan mbok Siti alias Girza, aku berlari ke kamar ibu untuk memperingatkannya. Aku masuk ke kamarnya dan mengetuk pintu kamar mandinya, namun tidak ada tanggapan, ibu terlalu sibuk mendengar kan lagu selagi mandi. Tak berselang lama kemudian aku mendengar suara langkah dari luar kamar sedang berjalan menuju kemari.

   Dengan perasaan panik aku masuk kedalam lemari dan bersembunyi disana, pintu lemari itu memiliki sela-sela seperti ventilasi sehingga kau dapat melihat keluar namun orang lain sulit melihat kedalam. Kira-kira gambar lemarinya seperti ini.


   Lalu mbok Siti pun masuk ke kamar, ia diam sejenak lalu ia bersembunyi di bawah tempat tidur, disitu ia menunggu hingga ibu ku keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian keluarlah ibu ku dari kamar mandi mengenakan piayama putihnya. Ketegangan ini membuat tubuh ku tak bisa bergerak dan mulut ku tak bisa bersuara, dan kini ajal ibu ku pun ahkirnya tiba..

   Ketika ibu ku sedang asik bercermin, dengan cepat mbok Siti keluar dari persembunyiannya. Ia ayunkan pisau ditangannya dengan cepat, lalu pisau itu menancap tepat di punggung ibu ku. Darah pun mengalir keluar dari tubuhnya dan mengubah warna piyama putihnya menjadi piyama berwarna merah darah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak, ku tutup mulut ku dengan kedua tangan ku sekuat mungkin dan keringat dingin pun ikut mengalir deras membasahi tubuh mungil ku. Lalu ku penjamkan mata ku, namun telinga ini masih bisa mendengar suara ibu ku yang  merintih kesakitan.

   Beberapa detik kemudian keadaan menjadi sunyi, dan aku mendengar suara kaki melangkah menjauh. Kubuka mata ku perlahan, dan aku melihat ibu telah terbujur kaku dilantai berlumuran darah. Pembunuh itu tak lagi berada di dalam kamar, ia sudah keluar entah kemana. Walaupun begitu, aku masih belum berani untuk keluar dari persembunyian ku.

*****

   Dua jam kemudian, setelah aku merasa keadaan sudah cukup aman. Aku paksa badan ku untuk keluar dari lemari dan berusaha untuk mencari bantuan. Namun, ketika aku membuka pintu kamar ibuku,  dia.., pembunuh itu.., sedang berdiri didepan pintu sambil memegang sebuah pisau yang ia gunakan untuk membunuh kedua orang tua ku. Aku sontak kaget dan ketakutan, dengan perlahan aku berjalan mundur mendekati jendela kamar.

   "Sel, ahkirnya kau muncul juga, ayo.., ikut lah dengan ku ke panti asuhan" ucapnya. "Apa kau gila?! Tentu saja aku tidak mau pergi bersama mu!" bentak ku. "Tapi kenapa ? Mereka berdua sudah kubunuh, dan kini tidak ada lagi alasan bagi mu untuk tetap tinggal disini" jawabnya. aku diam sejenak lalu berkata "Memang tidak ada lagi alasan bagi ku untuk tetap tinggal disini, tapi bukan berarti aku harus ikut bersama mu.., bye.." Setelah aku mengatakan itu, dengan sigap aku meloncat keluar jendela hingga kaca jendela itu pun pecah dan aku pun terjun bebas dari lantai dua rumah itu.

   Kedua kaki ku menghantam tanah terlebih dahulu lalu tubuh ku terguling di tanah. Bisa ku rasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuh ku, namun untungnya aku tidak kehilangan kesadaran ku. Dengan susah payah aku pun bangkit berdiri dan berlari terpincang-pincang mencari bantuan. Setelah lelah berteriak sekencang mungkin, ahkirnya ada warga yang keluar dari rumahnya dan menolong ku.

   *****

   Keesokan paginya aku berada disebuah Rumah Sakit ternama dan seorang bapak-bapak dari lembaga perlindungan anak datang menemui ku. Orang itu menanyakan banyak hal kepada ku, namun hanya beberapa pertanyaan saja yang bisa ku jawab.

Disitu juga aku memberi tahu dia bahwa mbok Siti tidaklah bersalah, dan Girza adalah pelakunya. Orang itu tampak bingung mendengar ucapan ku, lalu ia bertanya siapa itu Girza. "Jika kubilang Girza adalah hantu, ia pasti tidak percaya dan akan menganggap ku gila" gumam ku dalam hati. Aku pun hanya bisa diam tanpa berkata sepatah kata apapun 

   Itulah cerita bagaimana kedua orang tua ku terbunuh sehingga aku pun harus rela kembali tinggal di panti asuhan. Aku jalani hari-hari ku disini sama seperti sebelumnya, namun kini ada satu hal yang berbeda.. Disaat dia datang dan mengajak ku bermain, aku tidak menghiraukannya. Aku berpura-pura kemampuan Six-Sense ku telah menghilang, ia pun tidak pernah lagi menggangu ku dan kini ia telah menghilang dari kehidupan ku. Namun, rasa amarah di hati ku ini tidak pernah hilang...




~The End~

Karya : Billiam Constani Leta

 


 


   

  

  

  



   

Minggu, 09 Agustus 2015

Rumah Kosong

 


   Wahyu, pemuda berusia 27 tahun ini baru saja pindah kesebuah rumah baru nan cantik, namun kecantikan rumah itu ternodai karna bersebelahan dengan sebuah rumah kosong yang menyeramkan sehingga kurang enak dipandang. Tinggal disebelah rumah itu tidak membuatnya takut karna ia sendiri tidak percaya akan adanya hantu. Namun, dia akan belajar untuk mempercayai itu.

  Malam itu bulan bersinar dengan terang, angin dingin berhembus dengan kencang dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam ketika wahyu mendengar Leni sedang tertawa sambil berlari mengelilingi ruang keluarga. "Len, kok jam segini masih main ? Tidur sana gih" ucap Wahyu. "Tapi ayah, aku sama deni masih asik main" balas anak berusia 5 tahun ini. "Kalo gitu.. kasih tau sama teman khayalan mu itu kalo kamu sudah disuruh tidur" Ucap Wahyu lagi. "Baiklah ayah.." kata Leni polos.

   Bukan rahasia lagi kalau Leni mempunyai teman khayalan bernama Deni, namun yang tidak Wahyu ketahui adalah Deni bukan hanya sekedar teman yang hanya ada di pikiran Leni, ia lebih dari itu.

   "Pakai selimut mu supaya nggak kedinginan" ucap Wahyu. Leni membalas "Iya.. Ayah, tadi Deni bi.." "ya sudah ayah ke kamar ayah dulu. Mimpi indah" potong Wahyu. Wahyu pun pergi meninggalkan kamar Leni, dan ketika Wahyu akan menutup pintu kamar, Leni berkata " besok malam mereka datang ayah.." Wahyu terdiam sejenak dan berkata "mereka siapa ?" "Penghuni rumah kosong sebelah.. Deni bilang mereka akan datang kemari dan berkunjung" ucap Leni.

  "Leni, rumah itu tidak ada penghuninya.. Itu sebabnya rumah itu disebut rumah kosong.." ucap Wahyu. "Tapi ayah, Deni bilang ada yang akan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengambil kembali lukisan yang ayah ambil dari rumah itu" balas Leni dengan sedikit ngotot. "Ba.. Bagaimana kau tau tentang lukisan itu ?" ucap Wahyu heran. "Deni yang kasih tau.." kata Leni. Wahyu tertegun mendengar hal itu, karna ia ingat dengan jelas tidak ada orang  yang tau ketika ia mengambil lukisan itu. Ia pun pergi ke kamarnya membawa perasaan heran dihati.

*****

   Keesokan siangnya Wahyu menelpon Leni untuk memberitahu bahwa hari ini ia akan kerja lembur hingga malam dan bibinya, Merry akan datang menemaninya hingga Wahyu pulang. Setelah menelpon ia kembali berkerja dan men-silent handphone-nya.

   Jam demi jam telah berlalu, dan kini jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Tiba saatnya bagi Wahyu untuk pulang dan bertemu dengan anak tercintanya, namun ketika ia akan pulang, ia mendapati handphone-nya memiliki 6 pesan suara dari Merry.

Dikirim pada jam 06:30 pm
- "Halo, yu.. Kamu jam berapa pulang ? Cepat pulang ya.." ucap Merry dengan nada suara sedikit panik dan khawatir.

Dikirim pada jam 07:17 pm
- "Wahyu, Keadaan dirumah ini jadi semakin aneh. Cepatlah pulang!! Ucap Merry ketakutan.

Dikirim pada jam 07:53 pm
- "Halo Wahyu, Aku dan Leni sudah tidak tahan berada dirumah ini, jadi kami putuskan untuk pergi dari sini. Kau bisa menemui kami dirumah ku" ucap Merry dengan nada panik dan dengan nafas yang terengah-engah.

Dikirim pada jam 08:04 pm
-  "Wahyu!! Cepat pulang!!! Mereka tidak mengizinkan kami keluar! Kami Takut..!" Teriak Merry ketakutan Disitu juga terdengar nyaring suara tangisan Leni.

   Wahyu mulai panik mendengarnya, ia bingung akan apa yang sedang terjadi. Ia pun bergegas menuju mobilnya dan mulai mengemudikannya secepat mungkin sambil terus mendengarkan pesan suara itu 1 per 1.

Dikirim pada jam 08:36
- Terdengar suara Merry sedang berbisik pelan seperti sedang bersembunyi dari sesuatu "Wahyu, kami takut!! Mereka hampir membunuh kami., Cepatlah pulang! Kami butuh bantu.." belum selesai ia berbicara tiba-tiba ia dan Leni berteriak nyaring "Aaaaaaaa!!!!!! Lepaskan aku!!! Jangan! Jangan ganggu dia!!" teriak Merry

Dikirim pada jam 08:49 pm
- "Aa.. Ayah.. Tolong cepat pulang..! Aku takut.." ucap Leni pelan ketakutan sambil menahan tangis.

  Tak lama setelah selesai mendengarkan semua pesan suara itu, ia pun ahkirnya sampai dirumahnya. Dengan perasaan panik ia segera berlari kedalam rumah, dan alangkah terkejutnya dia melihat isi rumahnya.

   Rumahnya sangat berantakan, buku-buku berserakan dilantai, Lampu gantung di ruang tamunya jatuh dan hancur berkeping-keping, serta banyak lukisan yang terjatuh ke lantai. Dan, Lukisan yang ia ambil dari rumah kosong itu ikut menghilang. Wahyu pun langsung teringat akan perkataan anaknya itu. Ia pun kembali berlari ke kamar Leni untuk memeriksa keadaan Leni dan Merry.

   Alangkah terkejutnya dia ketika sampai ke kamar Leni, dengan nafas yang tak beraturan, ia melihat adiknya Merry tergeletak lemas dilantai dengan tubuh penuh dengan luka lebam. Ia juga melihat ada bekas luka lebam dilehernya berbentuk seperti jari-jari tangan, Wahyu menduga ada yang berusaha membunuh adiknya itu dengan cara mencekiknya. Namun untungnya, Merry masih dalam keadaan hidup, ia hanya pingsan dan ia akan segera sadar.

   Wahyu pun teringat akan Leni, ia mencari Leni disetiap sudut rumahnya namun ia tidak dapat menemukan anak satu-satunya itu. Ditengah keputusasaan yang ia alami, tiba-tiba ia melihat sesesok anak laki-laki berseragam sekolah datang menghampirinya. Ia kaget serta takut, sebab anak itu tidak seperti anak biasa pada umumnya, wajah anak itu pucat pasi dan bajunya sangat kotor. Anak itu tidak lain dan tidak bukan adalah sesosok, hantu. Ini merupakan pertama kalinya Wahyu melihat hantu dengan kedua matanya sendiri.

   Namun ketakutannya itu perlahan sirna ketika ia melihat nama yang tertera di baju seragam hantu itu, disitu tertulis sebuah nama yang tak asing baginya. Deni, itulah yang tertulis disitu.. "I..inikah wujud Deni ? jadi dia, bukan hanya ada di imajinasi Leni" pikirnya dalam hati. Belum sempat kebingungannya terjawab, roh itu menggenggam tangannya dan mengajak wahyu untuk mengikutinya.

   "Tunggu, kemana kau akan membawa ku ?" tanya Wahyu. Roh itu hanya menjawabnya dengan sebuah kata, yaitu "Leni". Mendengar itu Wahyu tidaklah lagi ragu untuk mengikutinya, ia berfikir mungkin saja Deni ingin membantunya menemukan Leni.

  Tak lama kemudian sampailah mereka disebuah rumah kosong yang menyeramkan, tepat berada disebelah rumahnya. Roh itu mengajaknya untuk masuk kedalam, namun timbul rasa ketakutan di hati Wahyu. Tapi demi menyelamatkan anaknya ia memberanikan diri untuk melangkah masuk kedalam rumah itu.

   Suasana didalam rumah itu sangat menyeramkan, sangat jauh berbeda ketika ia dulu datang kemari untuk mengambil lukisan itu. Bagian dalam rumah itu sangat gelap dan kotor, semua barang-barangnya ditutupi dengan kain putih. Tak lama kemudian sampailah ia dan Deni didepan sebuah pintu kamar yang terkunci, lalu tiba-tiba saja Deni pun menghilang dari pandangan Wahyu, dan kini dia benar-benar "sendiri" didalam rumah menyeramkan itu.

  Tak membuang-buang waktu, ia pun membuka pintu kamar itu dan masuk perlahan ke dalamnya. Wahyu sangat terkejut ketika melihat kedalam ruangan itu, ia melihat lukisan yang dulu ia ambil dari rumah ini, dan sekarang lukisan itu sedang tergantung rapi diruangan itu.

   Ia pun sadar bahwa yang dikatakan anaknya itu memang benar adanya, ia menyesal. Andai saja ia mau mendengarkan Leni, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Lalu ia pun melanjutkan misinya untuk mencari Leni dikamar itu, dan kemudian ia melihat sebuah tangan tergeletak muncul dari bawah kolong ranjang. Ia kumpulkan semua keberaniannya lalu ia perlahan-lahan menunduk dan mengintip ke kolong ranjang untuk mengetahui siapa gerangan pemilik tangan ini. Dan,

  Teryata itu adalah tangan Leni, Leni sendiri sedang terbujur kaku tak sadarkan diri dibawah ranjang itu, dengan sigap ia tarik tangan anaknya itu untuk mengeluarkan anaknya dari bawah kolong ranjang. Tapi tiba-tiba, ada sepasang tangan menyeramkan yang menahan kaki Leni dan menarik masuk kembali Leni kedalam Kolong ranjang itu. Wahyu sangat kaget serta takut, ia pun melawan dan menarik sekuat tenaga badan anaknya itu dan tiba-tiba,

   Sepasang tangan yang tadinya menarik kaki Leni tiba-tiba saja melepaskan kaki Leni, sehingga Wahyu yang dari tadi sedang menarik kuat tubuh anaknya itu, terhempas kebelakang dan kepalanya membentur dinding dengan keras sehingga kepalanya mengalami pendarahan dan ia pun jatuh dan tak sadarkan diri.

   *****

   Keesokan paginya ia dan Leni ditemukan oleh Merry yang dibantu oleh warga sekitar. Mereka berdua pun dilarikan kerumah sakit dan beberapa hari kemudian mereka sadar dan kembali sehat.

  Dan semenjak itu Wahyu pun langsung membangun sebuah tembok tinggi untuk membatasi rumahnya dengan rumah kosong itu. Dan semenjak itu pula kini Wahyu percaya akan adanya, hantu. 

   Memang benar, terkadang untuk percaya akan suatu hal, kau tidak harus bisa merasakan & melihatnya untuk percaya.

~The End

Karya : Billiam Constani Leta.
Request cerita dari : azizahisti (instagram)






Selasa, 04 Agustus 2015

Cerita Seram

 


   Siang itu ketika hampir semua murid telah pulang, Erna mulai merasa bosan menunggu sendirian didalam kelasnya. Ia sedang menunggu Tina yang sedang ada kelas tambahan, mengingat kakaknya itu akan segera menghadapi UN. Namun, Rasa bosan yang dirasakan Erna pun sirna ketika dua orang gadis datang menemuinya.

Erna    : Syukurlah kalian datang, aku sudah menanti kalian dari tadi.
Vika    : Memangnya ada apa er ?
Erna    : Aku bosan menunggu kakak ku sendirian disini..
Linda  : Bagaimana kalau kami bercerita ? kau mau dengar ?
Erna    : Iya boleh-boleh, Cerita apa ?
Vika    : Kamu maunya cerita apa ?
Erna    : Entahlah.. Lin, boneka mu kok nggak ada kepalanya ?
Linda  : Ya... Seseorang merusaknya!!!
Vika    : Sabar Lin.. Bagaiman kalau cerita seram ?
Erna    : Mmm... Oke..
Vika    : Aku punya suatu cerita..

   "Pada suatu malam ada seorang gadis yang baru saja pulang kerumahnya dan ia kebelet ingin kencing. Lalu ia pergi ke kamar mandi namun disaat gadis itu akan masuk ke dalam, ia mendapati pintunya sedang dalam keadaan terkunci dan terdengar suara orang mandi dari dalam. Karna ia hanya tinggal berdua dengan kakaknya yang kebetulan bernama Linda, jadi ia pikir orang yang ada didalam kamar mandi itu adalah kakaknya.

   So, ia urungkan niatnya dan pergi ke kamar untuk ganti baju. Namun ketika ia sedang berjalan ke kamarnya, ia melihat Linda keluar dari dalam kamarnya sambil membawa boneka kesayangannya. Gadis itu kaget dan bertanya apakah ada tamu dirumah mereka dan kakaknya menjawab hanya ada mereka berdua saja didalam rumah. Timbul sebuah pertanyaan di kepala gadis itu, Jika kakaknya ada disini dan tidak ada tamu dirumah, lalu siapa yang ada didalam kamar mandi!

   Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah kamar mandi, gadis itu dan kakaknya kaget serta panik. Mereka menduga ada seseorang telah menerobos masuk ke dalam rumah mereka.

   Gadis itu bersama kakaknya segera berlari mengecek kamar mandi dan anehnya ketika mereka sampai, mereka mendapati pintunya tidak terkunci. Gadis itu heran karna sebelumnya ia yakin kalau pintu ini terkunci, ia pun memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar mandi namun, tidak ada siapapun disana.

   Ketika ia sedang memeriksa kamar mandi tersebut, tiba-tiba saja kakaknya berteriak dari luar kamar mandi. Ia pun keluar untuk memeriksanya, dan ia tidak percaya akan apa yang ia lihat.

   Lalu dua hari kemudian kedua kakak-kakak beradik ini ditemukan meninggal dunia didalam rumahnya dengan kondisi jazad yang mengenaskan. Ditemukan banyak luka tusuk diseluruh tubuh mereka dan harta benda mereka pun banyak yang menghilang. Dan sang pelaku hingga sekarang belum juga ditemukan."

Erna   : Oh, aku mengerti, ketika gadis itu keluar dari kamar mandi, ia melihat kakaknya telah terbunuh oleh pelaku?? Ya kan..?
Vika   : iya, dan ahkirnya setelah dengan susah payah melawan, gadis itu pun ikut terbunuh.
Erna   : ihh kasian sekali mereka dibunuh hanya karna harta. Semoga pelakunya segera tertangkap. Kalau cerita mu lin ?
Linda : Aku tidak punya cerita seram seperti cerita Vera. Tapi, aku punya sebuah cerita menyeramkan tentang sekokah ini!
Erna   : Cerita apa ?
Linda : Dulu...,

   "Sekolah ini dulunya adalah sebuah kompleks perumahan. Lalu oleh pemerintah, kawasan tersebut diubah menjadi sebuah Rumah Sakit dan menurut kabar yang beredar, banyak pasien serta keluarga mereka yang mengeluh mengalami kejadian-kejadian aneh ketika di rawat disitu.

   Salah satunya ialah banyak orang yang mengaku melihat dua orang gadis remaja yang menyeramkan sedang berjalan di lorong rumah sakit pada tepat tengah malam, salah satu gadis itu membawa sebuah boneka tanpa kepala yang berlumuran darah.

   lalu lama kelamaan karna suatu hal Rumah Sakit itu ditutup dan gedungnya dialih fungsikan menjadi gedung sekolah yang kamu tempati sekarang ini"

Erna   : Oohh.. Aku baru tau.. Apa cerita itu benar ??
Linda : Iya, banyak orang yang mengangapnua benar
Vika   : kalau kamu sendiri er, kamu punya cerita seram ??
Erna   : Aku ngg....

   Belum selesai Erna bicara, tiba- tiba datanglah Tina menghampiri Erna yang sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya itu. "Er, kamu ngapain disini sendirian ? Ayo pulang.." ucap Tina, Erna menjawabnya dengan sebuah senyuman manis tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

    Erna dan Tina pun keluar dari kelas itu, namun ketika mereka akan keluar, Erna sempat melambaikan tangannya kedalam kelas. Bagi orang-orang mungkin terlihat seperti Erna sedang melambai ke kursi kosong.. Namun berbeda dengan yang Erna lihat, kedua "temannya" ada disana sedang melambai balik kepadanya.

~The End~

Karya : Billiam Constani Leta