Kumpulan Cerpen Horror karya Billiam Cosnstani Leta, yang siap membuat malam mu menjadi mengerikan. Kunjungi halaman Facebook kami Lianosta Blog dan jangan lupa untuk membaca Term Of Service kami untuk mengetahui peraturan dan ketentuan blog ini.
Jumat, 31 Juli 2015
Tiga Belas
Malam itu disebuah rumah yang sederhana lebih tepatnya disebuah kamar, ada seorang gadis yang dalam beberapa menit lagi akan berulang tahun ke 13. Gadis itu bernama Anggie, ia tinggal bersama Yuni yang berusia 12 tahun lebih tua darinya.
Ia berharap mendapat kejutan ulang tahun dari kakaknya tepat pada tengah malam nanti atau setidaknya mendapat ucapan selamat dari cowok idamannya di sosmed. Menit demi menit telah berlalu dan jam sudah menunjukan tepat pukul tengah malam, belum sempat ia mengecek smartphone-nya tiba tiba ia mendengar suara gaduh dari dalam lemarinya.
Suara itu terdengar seperti ada orang yang berusaha keluar dari dalam lemari itu, lama kelamaan suara gaduh itu terdengar semakin kencang dan keras. Anggie sangat ketakutan mendengarnya, namun ia berfikir itu adalah ulah kakaknya yang berusaha untuk mengerjainya.
Ia pun memberanikan diri untuk bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah lemari itu, dan ketika ia akan membuka lemari itu. Tiba-tiba saja suara gaduh itu menghilang dan suasana pun kembali menjadi sunyi.
Sontak Anggie pun menjadi heran sekaligus takut. Bermodalkan rasa keingintahuan yang tinggi, ia pun perlahan membuka lemari itu dan memperbolehkan matanya untuk menoleh kedalam. Namun Anggie tidak percaya akan apa yang ia lihat, ia hanya melihat pakaian yang tertata rapi didalamnya, dengan kata lain tidak ada siapapun didalam lemari itu. Ia pun tahu bahwa itu bukanlah perbuatan kakaknya.
Anggie kaget dan mulai panik, bagaimana bisa terdengar suara gaduh dari dalam lemari itu tanpa ada manusia atau hewan didalamnya. Imajinasinya semakin liar, dan dengan cepat ia mematikan lampu kamarnya dan pergi keatas ranjang, ia lalu memeluk guling kesayangannya dan menyelimuti dirinya dengan selimut.
Tak lama kemudian ia mendengar ada suara aneh dari bawah ranjangnya, seketika ketakutannya semakin membesar, nafasnya berhembus dengan cepat dan tidak teratur, serta keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Ia mengintip dari balik selimutnya dan tiba-tiba, ia beserta ranjangnya terangkat ke udara dengan cepat dan kemudian terhempas jatuh ke lantai. Anggie pun kaget dan berteriak, lalu terbesit dipikirannya untuk segera keluar dari kamar itu.
Namun ketika ia turun dari ranjang dan akan berlari, tiba-tiba ada sebuah tangan keluar dari bawah ranjang dan menarik kaki Anggie. Ia pun terjatuh dan kepalanya membentur lantai hingga berdarah. Dengan posisi tengkurap ia menoleh kebelakang dan,
Ia melihat wanita dengan wajah hancur dan mata melotot sedang menarik kakinya dari dalam kolong ranjang, Anggie pun berteriak ketakuatan sambil terus meronta-ronta meminta untuk dilepaskan, dan dengan susah payah ahkirnya ia berhasil melepaskan tangan wanita menyeramkan itu dari kakinya dan kemudian ia berlari keluar dari kamarnya.
Ia berlari keluar dan menemukan kakaknya yang juga sedang berlari menuju ke kearahnya. Ia pun mulai menangis dan menceritakan bahwa ada sesosok wanita menyeramkan didalam kamarnya. Namun, ketika mereka berdua kembali ke kamar Anggie untuk memeriksanya, mereka tidak menemukan siapapun di situ. Anggie yang masih ketakutan dan syok memilih untuk melewati malam di kamar kakaknya.
Keesokan paginya mereka memanggil seorang pastor untuk membersihkan kamar itu dari hal-hal yang jahat. Dan semenjak itu ia tidak pernah lagi dihantui oleh makhluk tersebut, namun ketika malam tiba ia slalu dihantui oleh, perasaan takut.
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta
Senin, 27 Juli 2015
Teman
Vina, begitulah orang-orang memanggil ku, dan ini adalah kisah ku 5 tahun yang lalu ketika aku masih berusia 7 tahun. Saat itu aku mempunyai seorang teman perempuan dan kami slalu bermain bersama. Namun..., teman ku ini berbeda.
Hari itu sedang cerah ketika sepasang suami istri pindah kesebelah rumah ku, aku melihat ada seorang anak perempuan keluar dari dalam mobil mereka. Perempuan itu tampak seumuran dengan ku, wajahnya cantik dan tampak ceria. Timbul niat dihati ku untuk berkenalan dan mengajaknya bermain bersama.
Kami pun berkenalan dan namanya adalah Lina, ia memberitahu ku bahwa rumah lamanya hangus terbakar dan oleh karna itu, ia dan keluarganya pindah kesini. Setelah asik berbincang-bincang kami pun mulai bermain bersama didalam kamar ku.
*****
Hari demi hari kami selalu bermain bersama, aku merasa sangat senang memiliki teman yang ramah dan baik hati seperti Lina. Namun tidak dengan kedua orang tua ku.
Disaat aku sedang bermain mereka melihat ku dengan tatapan khawatir, mereka bertanya aku sedang bermain dengan siapa. Dan aku memperkenalkan mereka dengan Lina.
Terlihat tatapan kaget serta khawatir dimata mereka dan mereka menjadi sering membawa ku pada seorang dokter. Dokter itu selalu menanyakan hal-hal aneh yang tak ku mengerti dan aku benci itu. Mereka pun mulai melarangku untuk bermain dengan teman ku Lina. Aku beranggapan mereka hanya khawatir karna aku kebanyakan bermain dan menjadi jarang belajar.
Hingga datang hari dimana aku akan mengetahui dugaan ku itu, salah.
*****
Pada suatu siang yang mendung, aku memutuskan untuk berkunjung kerumah Lina. Aneh rasanya karna kami sudah lama berteman namun aku belum pernah mengunjunginya.
Aku bertemu dengan ibu Lina dan bertanya dimana Lina berada karna aku ingin mengajaknya bermain.
Ibu Lina kaget dan syok mendengar pertanyaan ku itu, ia balik bertanya dari mana aku bisa tahu tentang Lina Karna ia mengaku belum pernah menceritakan kepada warga sekitar bahwa ia mempunyai anak bernama Lina. aku pun menjelaskan semuanya kepada ibu Lina.
Ia sangat kaget mendengar ucapan ku dan air mata mulai keluar dari matanya. Dengan perasaan sedih ia masuk kedalam kamarnya dan kembali keluar membawa sebuah foto. Terukir wajah Lina didalam foto itu, disitu Lina terlihat sangat cantik.
Ibu Lina mulai menjelaskan kepada ku bahwa Lina adalah anak yang cantik dan ceria, rambutnya hitam dan kulitnya putih. Namun semua itu sirna ketika ia wafat di panasnya api yang membakar rumahnya 3 bulan yang lalu. Aku kaget mendengarnya, aku tersadar bahwa slama ini teman yang slalu ku ajak bermain bersama, sudah meninggal.
Ya, begitulah cerita ku, dan hingga sekarang orang-orang beranggapan teman ku itu tidaklah nyata. Namun, ia terlihat nyata bagi ku.
Tiba-tiba terdengar suara pelan memanggilku "Vin.. Vina.. Ayo main" ucap seorang gadis cantik. "Iya Lina sebentar" balas ku.
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta(billi costan)
Jumat, 24 Juli 2015
"Ayah, Tolong Aku.."
Malam itu disaat waktu sudah menunjukan tengah malam, Andi berteriak kencang dari dalam kamarnya. Teriakan anak berusia enam tahun itu terdengar hingga ke kamar ayahnya yang bernama Firza. Firza terbangun dari tidurnya dan dengan cepat pergi menuju kamar anaknya.
Ketika sampai didalam kamar anaknya, ia mendapati Andi berada diatas tempat tidurnya sedang sembunyi ketakutan dibalik selimutnya. Firza pun bertanya kepada anak satu-satunya itu apa yang terjadi hingga ia berteriak nyaring.
"Ayah, ada monster didalam lemariku.. Aku takut" jawab Andi pelan. Agar anaknya tenang dan bisa kembali tidur, ia mengecek kedalam lemari dan,
Ia melihat Andi lainnya didalam lemari itu sedang gemetaran dan ketakutan. Firza kaget serta bingung melihatnya, bagaimana bisa ada dua Andi yang mirip didalam kamar ini.
Belum sempat kebingungannya terjawab, Andi yang berada didalam lemari itu melihat kearah Firza dan berbisik kepadanya. "A..Ayah, tolong aku.. Ada sesuatu yang menyeramkan diatas tempat tidur ku.." bisik Andi ketakutan.
Mendengar hal itu kebingungan Firza semakin menjadi-jadi, didalam hatinya ia berfikir. "Jika yang didalam lemari ini adalah anak ku yang asli, lalu siapa tadi yang berada diatas tempat tidur ?" gumam Firza. Percikan-percikan ketakutan mulai tumbuh didalam hatinya, dan dengan perlahan ia menoleh kearah tempat tidur itu berada.
Ia sangat kaget ketika Ia melihat sesosok yang menyeramkan sedang jongkok diatas tempat tidur anaknya, sesosok itu memiliki tubuh yang kurus, kepala botak dan mata yang melotot. Firza berteriak ketakutan, baru kali ini ia melihat hal-hal menyeramkan seperti itu. Tanpa pikir panjang ia langsung membawa Andi berlari keluar dari kamar itu, dan pergi ke kamar Firza.
Mereka mengunci diri didalam kamar hingga pagi dan mereka terus berdoa sambil berharap makhluk itu tidak mengikuti sampai ke kamarnya.
*****
Keesokan paginya Firza dan anaknya pergi kesalah satu rumah pemuka agama setempat dan ia menceritakan semua yang terjadi dirumahnya. Pemuka Agama itu langsung datang ke rumah Firza dan mendoakan rumah itu terutama kamar Andi, agar makhluk itu tidak mengganggu mereka lagi.
Dan semenjak itu, makhluk meyeramkan itu tak pernah lagi menampakan dirinya didepan ayah dan anak itu. Namun, disaat tengah malam tiba, disaat bulan purnama muncul, dam disaat dinginnya malam menusuk hingga ke tulang-tuilang, Firza selalu menemukan Andi tengah bermain sendirian dikamarnya dan ketika disuruh untuk kembali tidur Andi dengan polosnya menjawab "nggak mau, kami lagi asik main"
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
Selasa, 21 Juli 2015
Bertemu Kuntilanak
Saat itu jam sudah menunjukan pukul 5 pagi dan Doni sudah terbangun dari tidurnya, ia bersiap melakukan jogging untuk pertama kalinya. Doni bertekad untuk menghilangkan lemak yang tertimbun di tubuhnya sejak lama, ia tidak ingin lemak-lemak itu menjadi pemicu munculnya penyakit serius di tubuhnya.
Doni jogging di sekitar kompleks rumahnya, ia memilih jalanan yang cukup sepi dilalui oleh masyarakat karna ia tidak terlalu percaya diri untuk berolahraga di depan umum. Sudah lewat sepuluh menit semenjak ia bangun dan ia sudah siap untuk mulai jogging, ia pun mulai memacu kakinya menelusuri jalanan.
Ia menjalaninya dengan penuh semangat, langkah demi langkah dan nafas demi nafas, sampai juga dia disebuah jalanan yang panjang dan sepi. Hanya ada beberapa rumah saja yang didirikan dipinggiran jalan itu, dan banyak pohon-pohon besar tumbuh menghiasi jalan itu. Karna lelah, Doni merasa tidak sanggup lagi menyuruh kakinya untuk terus berlari, ia memutuskan untuk berjalan kaki melewati jalanan sepi itu.
Saat itu hari masih gelap, matahari belum menampakan sinarnya dan angin dingin terus berhembus hingga membuat Doni kedinginan.
Disetiap langkah yang ia ambil Doni merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya, ia amati keadaan disekitarnya namun tidak ada siapapun disana. Hingga kedua matanya tertuju kepada sebuah pohon sawo yang cukup tinggi. Matanya terbelalak ketika melihat ada seorang wanita yang sedang duduk diatas pohon, wanita itu berpakian putih dan berambut panjang, wajahnya pucat dan begitu menyeramkan. Wanita itu mengeluarkan tawa yang mengerikan dan tawa itu memecah heningnya pagi.
Doni berteriak kaget hingga terjatuh dan jantungnya mulai berdebar dengan sangat cepat. Ia bangkit berdiri dan mengkerahkan semua tenaga ia punya untuk berlari, ia berlari dan terus berlari hingga ia tersandung dan terjatuh, kedua lutut dan sikunya terluka..
Ia memberanikan diri untuk menoleh kebelakang dan sesosok itu telah menghilang, namun ketika ia melihat kebelakang ia merasa ada segumpalan rambut menyentuh tangan serta lehernya dari depan. Dengan cepat ia menoleh ke depan dan,
Sesosok wanita menyeramkan itu ternyata telah berdiri tepat didepannya, jantungnya semakin cepat berdetak, aliran darah didalam tubuhnya mengalir dengan cepat, mulutnya membuka dan berteriak dengan sangat kencang. Lalu Doni bangkit berdiri dan berlari menjauh ke arah sebaliknya sambil berteriak.
******
Semenjak kejadian itu, Doni tidak trauma untuk melakukan jogging lagi. Ia malah termotivasi untuk lebih giat berolahraga agar ketika ia bertemu hantu lagi, ia bisa berlari menjauh dengan cepat. Dan ia memilih untuk tidak jogging atau lewat di kawasan itu lagi, karna tentu ia tidak ingin berhadapan dengan sesosok menyeramkan itu lagi, sesosok menyeramkan yang biasa disebut masyarakat sebagai, kuntilanak.
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta ( Billi Costan)
Minggu, 19 Juli 2015
"Mimpi" Buruk
Lebaran telah berlalu, hari libur juga hampir usai. Tiba saatnya bagi Gina untuk pergi dari kampung halamannya dan kembali kepekerjaannya, pekerjaan yang tiada henti membuatnya stress.
Gina pergi menaiki sebuah bis malam di stasiun yang tak terlalu jauh dari kampungnya. Ia naiki bis besar yang sudah dipenuhi penumpang lainya itu, dan ia duduk disebuah kursi kosong. Tak lama kemudian datang seorang pria tinggi besar duduk disebelahnya, tampang pria itu cukup sangar. Gina sedikit takut terhadap pria itu, ia takut pria itu akan berbuat sesuatu yang jahat kepadanya.
Namun Gina ingat pada sebuah perumpamaan terkenal "Don't judge the book by the cover", ia pun berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk tidur karna ia akan menempuh perjalanan yang sangat jauh.
***
Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, dan Gina pun terbangun dari tidurnya. Ketika ia membuka kedua matanya, bukannya melihat sekumpulan orang yang sedang tidur, ia malah melihat sekumpulan kursi kosong. Tidak ada satu pun orang didalam bis kecuali dia, supir dan penumpang lainnya hilang entah kemana. Awalnya ia berfikir bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan, namun dugaannya itu sirna ketika ia melihat keluar jendela dan mengetahui bahwa bis itu masih melaju di jalan raya yang sepi.
Gina mulai merasa panik dan ketakutan, ia berlari ke bagian depan bis dan berusaha untuk menghentikan laju bis itu. Ia menginjak rem bis itu sekuat tenaga namun usahanya itu sia-sia, bis itu tetap terus melaju.
Ditengah kepanikan yang ia rasakan, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Jantungnya mulai berdebar kencang, dan rasa takutnya semakin membesar. Ia memberanikan dirinya untuk melihat kebelakang, dan ia tidak percaya akan apa yang ia lihat.
Ia melihat bis yang tadinya kosong sekarang sudah dipenuhi oleh segerombolan orang yang berjalan pelan mendekatinya! Bukan orang-orang biasa, tubuh orang-orang itu berlumuran darah, wajah mereka dipenuhi luka-luka yang mengerikan, bahkan ada diantara mereka yang kehilangan salah satu anggota badannya.
Ia berteriak kaget dan sangat ketakutan, tubuhnya mulai dipenuhi hormon adrenalin, dan otaknya sudah tidak bisa lagi digunakan untuk berfikir jernih. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara keluar dari bis hantu ini, lalu ia pun menjadi nekad. Dia coba untuk membuka pintu bis itu namun tidak bisa, dan ahkirnya ia memutuskan untuk memecahkan kaca jendela bis dengan tangannya hingga berdarah. Ia menarik nafas yang panjang lalu ia melompat dari bis yang sedang berjalan itu. Sebelum tubuhnya bersentuhan dengan kerasnya aspal, ia terbangun..
Ia terbangun dengan ekspresi kaget, dan dengan nafas yang terengah-engah. Ia melihat sekitarnya dengan was-was, dan orang-orang menyeramkan tadi sudah tidak ada, yang ada hanyalah orang-orang yang sedang tertidur dengan lelap.
Namun ada suatu hal yang juga ikut menghilang..
Pria yang tadi duduk disebelahnya juga ikut menghilang! Kepanikannya yang tadi mulai sirna, kini mulai muncul lagi.
Ia memeriksa seluruh barang bawaannya namun tidak ada satu pun barang yang hilang. Ia bertanya kepada penumpang yang duduk dibelakangnya kemana perginya orang yang duduk disebelahnya tadi, namun penumpang itu menjawab tidak ada pria atau siapa pun yang duduk disebelahnya semenjak mereka berangkat dari stasiun.
Gina sontak kaget mendengar hal itu, ia terdiam untuk beberapa saat. Lalu penumpang ini balik bertanya kepada Gina, penumpang itu bertanya kenapa tanganya berdarah.
Gina ahkirnya sadar bahwa dari tadi tangannya berdarah. Dan ia teringat di dalam mimpinya ketika ia memecahkan kaca jendela dengan tangannya. Gina bingung akan apa yang sebenarnya terjadi, ia bingung mimpi itu apakah benar-benar mimpi atau kenyataan.
Tanpa menjawab pertanyaan penumpang itu, ia kembali duduk di kursinya namun ia tidak bisa kembali tidur. Sambil mengobati tangannya, ia terus saja memikirkan kejadian itu hingga ahkirnya pagi tiba dan ahkirnya Gina sampai di tempat tujuan.
Semenjak itu Gina tidak pernah lagi bepergian menggunakan bis malam, ia trauma dengan kejadian itu.
~The End ~
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
Kamis, 16 Juli 2015
Disaat Mati Lampu
Malam itu, listrik sedang padam di daerah kost ku yang terletak dipinggiran kota. Dan yang kulakukan hanyalah duduk didepan kamar kost, menatapi terangnya bulan serta sekumpulan bintang yang tertata cantik di angkasa.
Aku mulai merasa bosan, dan kuputuskan untuk berkunjung ke kost-an tetangga baru ku, Ajeng. Ajeng baru saja pindah 3 hari yang lalu ke kamar yang sudah lama kosong itu. Penghuni sebelumnya hanya bertahan selama 1 minggu, dan kemudian kamar itu kosong hingga berbulan-bulan sampai Ajeng datang menempatinya.
Aku bangkit dari kursi, dan mulai melangkahkan kaki ke kamar Ajeng yang berada dipojokan kost. Kamar kost Ajeng bersebelahan dengan kebun warga sekitar, sebuah sungai dangkal menjadi pembatas diantara keduanya.
Kupangil namanya namun tidak ada balasan, lalu ku ketuk pintu kamarnya. Ternyata pintu kamarnya tidak tertutup rapat, sehingga saat diketuk pintunya terbuka sedikit dengan sendirinya. Ku genggam ganggang pintunya dan ku buka lebar pintu itu dengan perlahan. Kamar itu terlihat sangat gelap, tak ada lilin atau alat penerang lainya yang menerangi ruangan itu.
Sekali lagi kupanggil namanya namun tetap tidak ada jawaban. Kupijakan kaki ku kedalam kamar itu dan tiba-tiba, terdengar pelan suara wanita menangis dari dalam. Aku tersontak kaget dan berkata "Ajeng! Kau kah itu ? Apa kau baik-baik saja ?" dan sekali lagi tidak ada tanggapan sama sekali. Ingin rasanya kudatangi sumber suara itu, namun kaki ku enggan melakukannya. ku urungkan niat ku dan kembali ke kamar ku. "Ajeng mungkin sedang ada masalah dan tak ingin diganggu" gumam ku dalam hati.
***
Waktu terus berjalan, dan tiba saatnya bagiku untuk tidur. Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh serta suara wanita menangis dari balik dinding kamarku, yang mana merupakan kamarnya Ajeng. Ku ambil sebatang lilin menyala dan kuletakan disebuah piring kecil, lalu pergi ke kamar Ajeng untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
Kubuka pintunya dan ku langkahkah masuk kakiku, dengan perlahan aku berjalan masuk. Semakin dalam aku masuk, semakin jelas terdengar suara tangisan itu. "Ajeng.." panggil ku, dan seketika ruangan itu menjadi sunyi, menyatu dengan sunyinya malam. Tangisan yang tadi menggema dirungan itu hilang seperti dibawa terbang oleh angin malam.
Tiba-tiba terdengar sebuah senandung lagu dari dalam kamar mandi. Aku langsung menghentikan langkah ku, jantungku seperti mau copot dan keringat dingin mulai keluar dari dalam tubuhku. Bukan sebuah lagu biasa yang ku dengar, lagu ini cukup untuk membuat ku sangat ketakutan, lagu yang konon dipercaya dapat memanggil sesuatu yang tak terlihat...
Lingsir wengi silarmu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas ojo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sembarang
Wojo lelayu sebet
Ingin sekali badanku untuk berlari keluar dari suasana menyeramkan itu, namun karna sifat keingintahuanku yang besar maka aku pun bertahan. Kupegang erat lilin yang kubawa lalu kubuka pintu kamar mandi itu. Kuberanikan mata ku untuk melihat kedalam dan,
Tidak ada siapapun di kamar mandi itu, lagu yang tadi terdengar pun juga menghilang. Suasana kembali menjadi sunyi, namun suasana seperti itu justru membuat rasa takut ku semakin membesar. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas untuk pergi dari kamar angker itu, aku takut akan terjadi sesuatu yang menakutkan. Namun,
Ketika ketika aku berbalik, aku melihat dengan kedua mata ku sesosok wanita berambut panjang, berpakaian putih dan melotot kearah ku sambil mengeluarkan tawa khasnya.
Ingin mulut ini berteriak sekencang mungkin, namun rasa takutku yang sudah melebihi batas membuat mulutku bungkam. Jantung ku yang tadi hampir copot, sekarang sudah benar-benar copot. Keringat dingin yang mengalir keluar dari tubuhku, sekarang telah membanjiri raga ku.kaki ini pun tak kuat lagi kugunakan untuk berdiri, kesadaran yang kumiliki pun perlahan mulai menghilang. Dan pada ahkirnya aku jatuh pingsan.
***
Terdengar samar-samar ada orang yang mengatakan "Fit..! Fitri!! Bangun fit..!". Kubuka perlahan kedua mata ku, terangnya lampu membuat mataku silau. Kulihat 2 orang wanita tampak panik melihat ku, mereka adalah Ajeng dan ibu kost. Mereka bertanya padaku apa yang terjadi, ku jelaskan semuanya pada mereka. Mereka tampak sangat takut dan kaget setelah mendengarnya.
Ajeng menjelaskan bahwa ia tadi pergi jalan bersama temannya ketika listrik padam, dan ketika pulang ia menemukan ku tergeletak dikamarnya. Namun, ada satu hal yang ia tidak mengerti. Ia bingung bagaimana caranya aku bisa masuk, karna ia bilang ia mengunci rapat rumahnya ketika ia pergi. Sepertinya itu akan tetap menjadi misteri yang tak akan terungkap.
Setelah membaik, aku pulang ke kamar ku tercinta. Sungguh pengalaman mati lampu yang mengerikan
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta (Billiam Costan)
Rabu, 15 Juli 2015
Kuburan
Sore ini aku dan seluruh keluargaku datang ke sebuah Taman Kuburan Muslim. Tentu saja bukan untuk bertamasya, melainkan untuk menguburkan kakek kami tercinta. Ia wafat pada siang hari tadi karna penyakit stroke yang sudah lama ia derita. Aku yang memakai dress hitam datang menaiki mobil bersama dengan kakakku serta sepupuku, Nina.
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore disaat kami bergegas menuju liang lahat dengan berjalan kaki. Tidak butuh orang ber-six sense untuk mengetahui bahwa kuburan ini menyeramkan, orang awam sepertiku saja bisa mengetahuinya.
Bagaimana tidak ? Banyak pohon kering tumbuh di pinggir jalan setapak kuburan ini, daun-daun kering menyelimuti tanah yang kami pijak, dan banyak makam yang tak terurus sehingga banyak ilalang kering tumbuh disekitarnya.
Sesampainya diliang lahat, jasad kakek segera dimakam kan, aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Ibu terus saja menangis tanpa henti hingga ia jatuh pingsan. Sontak semua menjadi panik termasuk aku, secara spontan ku taruh hape yang dari tadi ku pegang disebuah makam tempat aku berdiri. Lalu ku berlari kearah ibu dan berusaha menyadarkannya.
Ibu ahkirnya sadar, dan proses pemakaman jazad kakek kembali dilanjutkan. Selama proses pemakaman, ku rangkul ibunda dengan kedua tanganku untuk menenangkannya hingga pemakaman selesai.
Saat itu hari sudah mulai senja, sanak saudara kami sudah banyak yang pulang karna suasana kuburan semakin menyeramkan. Namun tidak dengan ibuku, ia memaksa untuk
tetap tinggal disitu. Tentu ayahku serta kami tidak mengizinkannya, dan setelah dibujuk rayu akhirnya ibu mau pulang. Kami pun bergegas meninggalkan kuburan angker itu.
Aku, Nina dan Kakakku, Berto pulang deluan lalu disusul oleh orang tua ku. Namun kami bertiga tidak langsung pulang ke rumah, kami sepakat untuk makan disebuah restaurant favorit kami.
***
Jam sudah menunjukan pukul 06:12 pm. Dan disaat sedang memakirkan mobil, sama seperti anak muda lainya, ingin aku mempost lokasi ku di facebook dan path bahwa aku sedang berada di sebuah Restaurant ternama. Namun.. Aku tersadar bahwa hape ku tidak ada bersama ku. Aku panik, sangat panik. Tidak butuh waktu yang lama bagi ku untuk menyadari bahwa hape ku tertinggal dikuburan.
Hal pertama yang kutakutkan adalah kehilangan hape kesayanganku itu. Maka dari itu, kubujuklah berto dan nina untuk menemani ku kembali ke kuburan malam ini juga.
Jelas awalnya mereka tidak mau, tapi mau bagaimana lagi mereka tidak akan membiarkan ku kesana sendirian. Kami pun menahan rasa lapar dan segera meluncur kesana.
***
Ketika kami sampai disana, kuburan itu terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Disitu sangat gelap, cahaya rembulan adalah satu-satunya yang menerangi kuburan itu. Kami bertiga memberanikan diri untuk berjalan masuk dengan berbekalkan cahaya LED Flash kamera hape Berto, hanya itu cahaya yang kami miliki.
Suara jangkrik mengiringi langkah kami, dan disetiap langkah yang ku ambil, ketakutan di hati ku semakin membesar.
"Aaaaaaaaa..!!!" teriakan nina memecah sunyinya malam di kuburan itu. Nina berteriak kencang sambil menunjuk ke salah satu pohon disitu, namun aku dan Berto tidak melihat apapun, entah apa yang Nina lihat, yang ku tahu itu pasti menyeramkan.
Setelah Nina tenang, kami kembali melanjutkan perjalanan dan ketika hampir sampai di makam yang kami tuju, tiba-tiba saja hape berto mati dan tak dapat dinyalakan. Kami sangat panik dan ketakutan. Karna sudah sampai sejauh ini, kami putuskan untuk mencari hape ku dengan berbekalkan cahaya rembulan.
Kami mencarinya dengan tergesa-gesa karna kami takut "mereka" akan menggangu kami dengan cara yang lebih ekstrim. Dan dugaan kami pun menjadi kenyataan, terdengar suara tawa wanita dari atas pohon. Jantung ku meledak karna kaget, dan mulutku berteriak dengan spontan.
Kami sangat ketakutan, dan ahkirnya kami memutuskan untuk segera pulang tanpa membawa hasil. Kami berlari dalam kegelapan menuju mobil yang terparkir cukup jauh. Disaat berlari aku jatuh tersandung, rasanya sakit sekali. Aku menoleh kebelakang untuk mencari tau apa yang membuatku tersandung. Dan ternyata,
Aku melihat sesosok terbaring ditanah berbungkuskan kain kafan kotor dengan wajah hitam gosong. Apa lagi itu kalau bukan pocong !! Aku berteriak lalu bangkit berdiri menyusul saudara ku yang sudah ada di mobil.
"Ayo cepati Vera!!" teriak berto. Dengan nafas terengah-engah dan mata berkaca-kaca ahkirnya aku sampai dimobil. Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung pergi dari kuburan mengerikan itu.
***
Saat itu waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam disaat kami sampai dirumah. Aku langsung berlari memeluk ibu ku dan menceritakan semua yang terjadi. Aku bisa melihat perasaan tidak percaya dimatanya.
Lalu tiba-tiba Ayah muncul dan berkata "Veraa, ini hape mu. Tadi ada penjaga kuburan yang menemuknnya dan memberikannya pada Ayah" "apa ??" ucap ku kaget.
Perasaan ku sangat kesal sekali karena usaha kami pergi kekuburuan ternyata sia-sia. Namun disisi lain aku bahagia karna hape ku tidak hilang. Sungguh pengalaman yang tak akan ku lupakan.
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
Senin, 13 Juli 2015
Sebelum Malam ke 40
Langit berwarna jingga ketika adzan maghrib akan berkumandang, burung-burung terbang berhamburan di udara mencari tempat untuk bersarang. Dan tiba saatnya bagi manusia pulang ke rumah untuk berkumpul dan bercengkrama dengan keluarganya. Begitu juga yang dilakukan oleh Deni.
Deni : Aku pulang..!
Ayah : Dari mana saja kamu nak ? Seharian kerjanya cuma keluyuran!
Deni : Iya maaf yah, ibu mana ?
Ayah : Di dapur, lagi masak.
**
Deni : bu, malam ini kita makan apa ?
Ibu : ibu masak makanan kesukaan mu, capcay..
Deni : asik, kalo gitu Deni ke kemar dulu ya.
Ibu : ya, jangan lupa langsung mandi..
Deni : yaa..
Kamar deni terletak di lantai 2 bersamaan dengan kamar adiknya, Ririn. Saat itu langit sudah mulai gelap dan adzan telah berkumandang. Hembusan angin pelan yang masuk melalui jendela balkon, menyentuh bulu kuduk Deni hingga berdiri.
Pelan-pelan Deni membuka pintu tua kamarnya dan, ia kaget melihat isi kamarnya...
Deni : Ririn!! Ngapain kamu disini ?! Kan sudah kubilang jangan main di kamar ku!! Liat ini, semuanya jadi berantakan!
Ririn : Kamar kakak kan luas..! Jadi lebih seru mainnya..
Deni : Kalo mau luas ke lapangan sana. Sudahlah, keluar! (Ucapnya sambil menarik keluar ririn, lalu menutup pintu dan kemudian deni bergegas mandi)
**
Selesai mandi dan berpakian, Deni turun ke bawah untuk makan malam.
Ayah : Den...
Deni : ya, kenapa yah ?
Ayah : mmm.. Ayah, Ibu mu, dan Ririn beberapa hari lagi akan pergi. Kamu nggak apa-apakan dirumah sendiri ? Atau kamu bisa tinggal dengan Tante mu kalau kau mau..
Deni : Ayah tidak usah khawatir.. Deni kan sudah besar, Deni bisa mengurus dan menjaga diri sendiri. Memang kalian mau pergi kemana ?
Ibu : Tempat yang jauh.. (bisiknya sambil tersenyum manis)
Ririn : Kak, Ririn minta maaf ya sudah sering bikin kakak kesal.
Ayah, Ibu, dan Ririn : Kami menyayangi mu.
Deni : ...... Aku juga sa....
Belum selesai Deni melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ia langsung berdiri dan membuka pintunya
Deni : Tante ???
Tante : Apa kabar mu Deni ?? (katanya sambil memeluk Deni)
Deni : Baik, silahkan masuk tante.. Ayo kita kemeja makan, kita makan sama-sama dengan Ayah, Ibu, dan Ririn. Ibu ku sudah masak makanan..
Tante : Apa ??! (hening sejenak) Sini-sini duduk, apa tadi yang kamu bilang ?!
Deni : eemmm.. Makan malam.. Sama ayah, ibu, dan.. Ririn.
Tante deni sangat terkejut mendengar itu. Dengan mata berkaca-kaca, dan sambil memegang kedua tangan Deni, ia berkata...
Tante : Deni... Apa kau tidak ingat..? Ayah mu, ibu mu, dan Ririn.. Mereka sudah lama Meninggal..!!! Bahkan tante kesini ingin membahas persiapan acara 40 harinya mereka..!
Deni menatap Tantenya dengan perasaan tidak percaya, Namun, sedikit demi sedikit dia ingat dan sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Ia sadar sebulan yang lalu ia berserta Ririn, Ayah, dan Ibunya mengalami kecelakaan, namun hanya dia yang berhasil selamat.
Lalu Deni menoleh kemeja makan dan.., tidak ada siapa-siapa disana.. Deni mulai termenung dan air mata mulai keluar dari matanya.
Tante : Deni... Kamu baik-baik saja ?? Hmm.. ? (Ucapnya heran).
Deni tidak bisa berkata sepatah kata apapun.. Melihat kondisi Deni yang sepertinya masih tertekan oleh kejadian itu, Tantenya pun memeluk Deni dan berusaha menenangkannya.
Memang betul kata orang, sebelum malam yang ke 40 mereka masih ada disekitar kita..
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
Sabtu, 11 Juli 2015
Menginap Dirumah Sahabat
Malam ini Kiki, Rara, dan Dewi berencana untuk menginap di rumah Sela, mereka berempat bersahabat. Para remaja ini sudah biasa menginap bersama, namun ini pertama kalinya mereka menginap di rumah Sela. Setelah dibujuk dengan susah payah, ahkirnya Sela mau rumahnya dijadikan tempat menginap. Sebelumnya Sela slalu menolak dan bahkan sedikit marah bila sahabat-sahabatnya itu ingin menginap dirumahnya.
Bulan sudah bersinar dan bintang-bintang mulai menampakan dirinya. Kiki, Rara, serta Dewi telah sampai dirumah Sela, rumahnya cukup sederhana untuk ditinggali sebuah keluarga kecil. Ketika menginjakan kaki dirumah tersebut, mama Sela langsung menyuguhkan makan malam yang sangat menggugah selera. Mereka semua makan dengan nikmat hingga kenyang.
Selesai makan mereka berempat menuju ke kamar Sela yang terletak dilantai dua. Kamar Sela tidaklah besar, hanya ada ranjang, sebuah lemari kecil, dan beberapa foto di dinding. Sahabat-sahabatnya berfikir mungkin ini alasan mengapa Sela tidak mau rumahnya dijadikan tempat menginap.
Malam semakin larut, setelah puas berbincang dan bercanda bersama, mereka semua bergegas untuk pergi tidur. Karna kamar Sela tidak muat untuk ditiduri oleh mereka semua, maka Sela tidur di kamar ibunya yang terletak dilantai satu, dan yang lainnya tidur di kamar Sela. Saat berada di kamar ibunya, Sela sangat khawatir meninggalkan sahabat-sahabatnya tidur dikamarnya.
*****
Beberapa jam telah berlalu, semuanya tidur nyenyak kecuali Kiki. Ia terbangun didinginnya malam, Kiki merasa ada sesuatu di kamar itu yang terus mengganggunya. Tiba-tiba jendela kamar berbunyi seperti ada yang melempar batu kerikil dari luar kamar. Awalnya Kiki tidak merasa terganggu oleh hal itu, namun kejadian itu terus berulang kali terjadi sehingga membuat Kiki mulai takut.
Kiki mengumpulkan semua keberaniannya yang tersisa dan mencoba bangkit dari tempat tidur untuk mengintip keluar jendela. Kiki mulai menurunkan kaki kanannya ke lantai dan, tiba-tiba sebuah tangan menyeramkan muncul dari bawah kolong tempat tidur dan mencengkram kaki Kiki dengan sangat kuat. Kiki sangat kaget dan takut hingga ia berteriak kencang, dia berusaha melepaskan tangan itu dari kakinya.
Setelah lepas, kiki berusaha membangunkan kedua sahabatnya namun tidak ada yang bangun. Kiki yang sedang panik, dibuat sangat ketakutan dengan sesosok nenek tua yang muncul dari bawah kolong tempat tidur.
Kemudian nenek ini dengan perlahan merangkak menaiki ranjang dan langsung mencekik leher Kiki dengan tangan keriputnya. Nenek ini menatap tajam mata kiki, kiki bisa melihat ada kemarahan di mata nenek tua ini. Kiki kesulitan bernapas dan ia terus meronta-ronta sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan nenek ini, hingga.....
"Aaaaaaaaaaaaa....!!!" teriak Kiki nyaring ketika ia bangun dari, "mimpinya". Kedua sahabatnya terbangun mendengar teriakan itu, begitu pun juga dengan Sela dan mamanya, mereka berdua langsung bangun menuju kamar sela. Ketika mereka sampai, mereka melihat Kiki dalam keadaan syok, nafasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi pakaiannya, matanya merefleksikan ketakutan yang amat besar, dan dileher serta kakinya terdapat bekas luka seperti bekas dicekik. Ketika ditanya pun Kiki tidak merespon, mama sela bertanya kepada Rara dan Dewi namun mereka pun tidak tau apa yang terjadi.
Sela hanya terdiam takut melihat kondisi Kiki. Sela tidak mau rumahnya dijadikan tempat menginap karna ia takut hantu yang ada dirumahnya akan menghantui sahabatnya. Namun apa daya, hal yang Sela takutkan pun telah terjadi.
Kemudian Kiki langsung dijemput oleh ayahnya dan dibawa ke rumah sakit. Rara dan Dewi juga dijemput oleh kerabat mereka masing-masing. Semenjak kejadian itu tidak ada lagi diantara mereka yang ingin menginap di rumah Sela terutama, Kiki.
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
Jumat, 10 Juli 2015
Sesosok Wanita Misterius
.
Langit sedang marah ketika lisa bersiap pulang dari kerja lemburnya pada jam 10 malam, petir memamerkan cahayanya dengan membelah langit malam yang sangat gelap disertai dengan suara gemuruh yang sangat keras hingga menggetarkan hati orang yang mendengarnya dan angin berhembus kencang hingga pohon pun dibuat menari olehnya.
Jalanan sedang sepi waktu itu, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Lisa mulai memacu motor bebeknya dengan cepat karna pada saat itu, butiran-butiran air sudah mulai turun dari langit.
Namun, ditengah perjalanan pulang ada seorang wanita keluar dari semak-semak di pinggir jalan lalu berlari ketengah jalan dan berusaha menghentikan laju kendaraan lisa. Lisa yang melihat wanita itu langsung menginjak rem motornya, karna tentu ia tidak ingin menabrak wanita ini.
Dengan perasaan kesal Lisa membuka kaca helmnya dan bertanya kepada wanita itu, apa maksud dari tindakannya tersebut. Wanita ini meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia sedang butuh tumpangan untuk pulang. Awalnya Lisa tidak mau, karna malam sudah semakin larut dan terlebih ia tidak mengenal wanita ini, namun wanita ini terus memohon kepada Lisa untuk diantarkan pulang. Setelah mengetahui rumah wanita ini tidak terlalu jauh dari rumahnya dan karna merasa sedikit iba ahkirnya Lisa mau mengantarkan wanita ini pulang.
Tidak ada hal aneh yang terjadi diperjalanan, dan mereka sampai dirumah sederhana wanita ini dengan selamat. Tanpa berfikir panjang, Lisa bergegas pulang kerumahnya. Namun, disaat Lisa hendak tancap gas, wanita ini memegang pundak lisa dan mengucapkan terima kasih dengan nada suara menyeramkan. Lisa menoleh ke arah wanita itu dan alangkah kaget dan takutnya dia melihat wajah wanita itu berlumuran darah dan wanita itu tersenyum dengan mata merah melotot ke arahnya.
Lisa berteriak dan dengan panik ia mulai menarik pedal gas motornya sekuat mungkin, dan ia terus melaju hingga membelah rintik rintik hujan dan angin kencang yang disertai petir dan gemuruh. Sesampainya dirumah, ia lekas mandi dan pergi kekamar untuk langsung tidur, didalam hatinya ia berdoa agar wanita itu tidak mengikutinya sampai kerumah. Karna terus mengingat kejadian itu, Lisa pun terjaga hingga pagi.
Ingin rasanya ia minta izin kekantor untuk tidak masuk sehari, namun karna tuntutan kerja, ia tetap harus masuk walaupun ia masih sedikit takut bila bertemu sosok wanita tersebut lagi.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, Lisa pun segera berangkat ke kantornya. Ketika ia sampai di tempat dimana ia bertemu dengan "wanita itu", ia melihat banyak orang berkerumun. Lisa menghentikan laju motornya, dan ia bertanya kepada salah satu warga tentang apa yang terjadi. Warga itu menjawab bahwa semalam telah ditemukan sebuah mayat korban kecelakan lalu lintas di semak semak itu dan sekarang polisi sedang menyelidiki TKP.
Lisa tertegun mendengar hal itu, dan dia bertanya lagi kepada warga tersebut, apakah mayat korban masih ada disitu apa tidak. Warga itu menjawab mayat itu sudah dibawa kerumah sakit untuk diotopsi, namun warga itu mengaku ia sempat memotret korban dan ia menunjukan foto tersebut kepada Lisa.
Alangkah terkejutnya Lisa melihat korban yang ada didalam foto tersebut adalah wanita yang sama dengan wanita yang ia antar semalam. Jasadnya ditemukan bersamaan dengan motornya.
Lisa yang masih dalam keadaan syok, melepaskan tuntutan kerjanya dan segera bergegas pergi ke rumah tempat ia mengantar wanita itu, dan setelah sampai disana, terdapat bendara kuning tergantung didepan rumah itu. Lisa lalu bertanya dengan warga sekitar dan ia menemukan fakta bahwa rumah tersebut adalah rumah kedua orang tua dari jasad yang ditemukan dipinggir jalan itu.
Ketika tengah mendengarkan cerita warga, Lisa melihat wanita itu berdiri didepan pintu rumah tersebut sambil tersenyum manis kepadanya, Lisa pun membalas senyum itu dengan ragu ragu. Setelah itu Lisa pergi menuju ke kantornya walau dia tau kalau dia sudah terlambat.
Diperjalanan Lisa terus memikirkan wanita itu. Lisa pun paham mengapa wanita itu memintanya untuk mengantarkan ia pulang ke rumah tersebut, karna arwah wanita itu ingin "berpamitan" dengan Ibu dan Ayahnya untuk terahkir kalinya.
Lisa kembali menjalani hidupnya tanpa ada rasa menyesal dan takut karna telah menolong sosok tersebut.
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta (Billi Costan)
Langganan:
Postingan (Atom)




