Minggu, 09 Agustus 2015

Rumah Kosong

 


   Wahyu, pemuda berusia 27 tahun ini baru saja pindah kesebuah rumah baru nan cantik, namun kecantikan rumah itu ternodai karna bersebelahan dengan sebuah rumah kosong yang menyeramkan sehingga kurang enak dipandang. Tinggal disebelah rumah itu tidak membuatnya takut karna ia sendiri tidak percaya akan adanya hantu. Namun, dia akan belajar untuk mempercayai itu.

  Malam itu bulan bersinar dengan terang, angin dingin berhembus dengan kencang dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam ketika wahyu mendengar Leni sedang tertawa sambil berlari mengelilingi ruang keluarga. "Len, kok jam segini masih main ? Tidur sana gih" ucap Wahyu. "Tapi ayah, aku sama deni masih asik main" balas anak berusia 5 tahun ini. "Kalo gitu.. kasih tau sama teman khayalan mu itu kalo kamu sudah disuruh tidur" Ucap Wahyu lagi. "Baiklah ayah.." kata Leni polos.

   Bukan rahasia lagi kalau Leni mempunyai teman khayalan bernama Deni, namun yang tidak Wahyu ketahui adalah Deni bukan hanya sekedar teman yang hanya ada di pikiran Leni, ia lebih dari itu.

   "Pakai selimut mu supaya nggak kedinginan" ucap Wahyu. Leni membalas "Iya.. Ayah, tadi Deni bi.." "ya sudah ayah ke kamar ayah dulu. Mimpi indah" potong Wahyu. Wahyu pun pergi meninggalkan kamar Leni, dan ketika Wahyu akan menutup pintu kamar, Leni berkata " besok malam mereka datang ayah.." Wahyu terdiam sejenak dan berkata "mereka siapa ?" "Penghuni rumah kosong sebelah.. Deni bilang mereka akan datang kemari dan berkunjung" ucap Leni.

  "Leni, rumah itu tidak ada penghuninya.. Itu sebabnya rumah itu disebut rumah kosong.." ucap Wahyu. "Tapi ayah, Deni bilang ada yang akan datang berkunjung ke rumah kita untuk mengambil kembali lukisan yang ayah ambil dari rumah itu" balas Leni dengan sedikit ngotot. "Ba.. Bagaimana kau tau tentang lukisan itu ?" ucap Wahyu heran. "Deni yang kasih tau.." kata Leni. Wahyu tertegun mendengar hal itu, karna ia ingat dengan jelas tidak ada orang  yang tau ketika ia mengambil lukisan itu. Ia pun pergi ke kamarnya membawa perasaan heran dihati.

*****

   Keesokan siangnya Wahyu menelpon Leni untuk memberitahu bahwa hari ini ia akan kerja lembur hingga malam dan bibinya, Merry akan datang menemaninya hingga Wahyu pulang. Setelah menelpon ia kembali berkerja dan men-silent handphone-nya.

   Jam demi jam telah berlalu, dan kini jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Tiba saatnya bagi Wahyu untuk pulang dan bertemu dengan anak tercintanya, namun ketika ia akan pulang, ia mendapati handphone-nya memiliki 6 pesan suara dari Merry.

Dikirim pada jam 06:30 pm
- "Halo, yu.. Kamu jam berapa pulang ? Cepat pulang ya.." ucap Merry dengan nada suara sedikit panik dan khawatir.

Dikirim pada jam 07:17 pm
- "Wahyu, Keadaan dirumah ini jadi semakin aneh. Cepatlah pulang!! Ucap Merry ketakutan.

Dikirim pada jam 07:53 pm
- "Halo Wahyu, Aku dan Leni sudah tidak tahan berada dirumah ini, jadi kami putuskan untuk pergi dari sini. Kau bisa menemui kami dirumah ku" ucap Merry dengan nada panik dan dengan nafas yang terengah-engah.

Dikirim pada jam 08:04 pm
-  "Wahyu!! Cepat pulang!!! Mereka tidak mengizinkan kami keluar! Kami Takut..!" Teriak Merry ketakutan Disitu juga terdengar nyaring suara tangisan Leni.

   Wahyu mulai panik mendengarnya, ia bingung akan apa yang sedang terjadi. Ia pun bergegas menuju mobilnya dan mulai mengemudikannya secepat mungkin sambil terus mendengarkan pesan suara itu 1 per 1.

Dikirim pada jam 08:36
- Terdengar suara Merry sedang berbisik pelan seperti sedang bersembunyi dari sesuatu "Wahyu, kami takut!! Mereka hampir membunuh kami., Cepatlah pulang! Kami butuh bantu.." belum selesai ia berbicara tiba-tiba ia dan Leni berteriak nyaring "Aaaaaaaa!!!!!! Lepaskan aku!!! Jangan! Jangan ganggu dia!!" teriak Merry

Dikirim pada jam 08:49 pm
- "Aa.. Ayah.. Tolong cepat pulang..! Aku takut.." ucap Leni pelan ketakutan sambil menahan tangis.

  Tak lama setelah selesai mendengarkan semua pesan suara itu, ia pun ahkirnya sampai dirumahnya. Dengan perasaan panik ia segera berlari kedalam rumah, dan alangkah terkejutnya dia melihat isi rumahnya.

   Rumahnya sangat berantakan, buku-buku berserakan dilantai, Lampu gantung di ruang tamunya jatuh dan hancur berkeping-keping, serta banyak lukisan yang terjatuh ke lantai. Dan, Lukisan yang ia ambil dari rumah kosong itu ikut menghilang. Wahyu pun langsung teringat akan perkataan anaknya itu. Ia pun kembali berlari ke kamar Leni untuk memeriksa keadaan Leni dan Merry.

   Alangkah terkejutnya dia ketika sampai ke kamar Leni, dengan nafas yang tak beraturan, ia melihat adiknya Merry tergeletak lemas dilantai dengan tubuh penuh dengan luka lebam. Ia juga melihat ada bekas luka lebam dilehernya berbentuk seperti jari-jari tangan, Wahyu menduga ada yang berusaha membunuh adiknya itu dengan cara mencekiknya. Namun untungnya, Merry masih dalam keadaan hidup, ia hanya pingsan dan ia akan segera sadar.

   Wahyu pun teringat akan Leni, ia mencari Leni disetiap sudut rumahnya namun ia tidak dapat menemukan anak satu-satunya itu. Ditengah keputusasaan yang ia alami, tiba-tiba ia melihat sesesok anak laki-laki berseragam sekolah datang menghampirinya. Ia kaget serta takut, sebab anak itu tidak seperti anak biasa pada umumnya, wajah anak itu pucat pasi dan bajunya sangat kotor. Anak itu tidak lain dan tidak bukan adalah sesosok, hantu. Ini merupakan pertama kalinya Wahyu melihat hantu dengan kedua matanya sendiri.

   Namun ketakutannya itu perlahan sirna ketika ia melihat nama yang tertera di baju seragam hantu itu, disitu tertulis sebuah nama yang tak asing baginya. Deni, itulah yang tertulis disitu.. "I..inikah wujud Deni ? jadi dia, bukan hanya ada di imajinasi Leni" pikirnya dalam hati. Belum sempat kebingungannya terjawab, roh itu menggenggam tangannya dan mengajak wahyu untuk mengikutinya.

   "Tunggu, kemana kau akan membawa ku ?" tanya Wahyu. Roh itu hanya menjawabnya dengan sebuah kata, yaitu "Leni". Mendengar itu Wahyu tidaklah lagi ragu untuk mengikutinya, ia berfikir mungkin saja Deni ingin membantunya menemukan Leni.

  Tak lama kemudian sampailah mereka disebuah rumah kosong yang menyeramkan, tepat berada disebelah rumahnya. Roh itu mengajaknya untuk masuk kedalam, namun timbul rasa ketakutan di hati Wahyu. Tapi demi menyelamatkan anaknya ia memberanikan diri untuk melangkah masuk kedalam rumah itu.

   Suasana didalam rumah itu sangat menyeramkan, sangat jauh berbeda ketika ia dulu datang kemari untuk mengambil lukisan itu. Bagian dalam rumah itu sangat gelap dan kotor, semua barang-barangnya ditutupi dengan kain putih. Tak lama kemudian sampailah ia dan Deni didepan sebuah pintu kamar yang terkunci, lalu tiba-tiba saja Deni pun menghilang dari pandangan Wahyu, dan kini dia benar-benar "sendiri" didalam rumah menyeramkan itu.

  Tak membuang-buang waktu, ia pun membuka pintu kamar itu dan masuk perlahan ke dalamnya. Wahyu sangat terkejut ketika melihat kedalam ruangan itu, ia melihat lukisan yang dulu ia ambil dari rumah ini, dan sekarang lukisan itu sedang tergantung rapi diruangan itu.

   Ia pun sadar bahwa yang dikatakan anaknya itu memang benar adanya, ia menyesal. Andai saja ia mau mendengarkan Leni, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Lalu ia pun melanjutkan misinya untuk mencari Leni dikamar itu, dan kemudian ia melihat sebuah tangan tergeletak muncul dari bawah kolong ranjang. Ia kumpulkan semua keberaniannya lalu ia perlahan-lahan menunduk dan mengintip ke kolong ranjang untuk mengetahui siapa gerangan pemilik tangan ini. Dan,

  Teryata itu adalah tangan Leni, Leni sendiri sedang terbujur kaku tak sadarkan diri dibawah ranjang itu, dengan sigap ia tarik tangan anaknya itu untuk mengeluarkan anaknya dari bawah kolong ranjang. Tapi tiba-tiba, ada sepasang tangan menyeramkan yang menahan kaki Leni dan menarik masuk kembali Leni kedalam Kolong ranjang itu. Wahyu sangat kaget serta takut, ia pun melawan dan menarik sekuat tenaga badan anaknya itu dan tiba-tiba,

   Sepasang tangan yang tadinya menarik kaki Leni tiba-tiba saja melepaskan kaki Leni, sehingga Wahyu yang dari tadi sedang menarik kuat tubuh anaknya itu, terhempas kebelakang dan kepalanya membentur dinding dengan keras sehingga kepalanya mengalami pendarahan dan ia pun jatuh dan tak sadarkan diri.

   *****

   Keesokan paginya ia dan Leni ditemukan oleh Merry yang dibantu oleh warga sekitar. Mereka berdua pun dilarikan kerumah sakit dan beberapa hari kemudian mereka sadar dan kembali sehat.

  Dan semenjak itu Wahyu pun langsung membangun sebuah tembok tinggi untuk membatasi rumahnya dengan rumah kosong itu. Dan semenjak itu pula kini Wahyu percaya akan adanya, hantu. 

   Memang benar, terkadang untuk percaya akan suatu hal, kau tidak harus bisa merasakan & melihatnya untuk percaya.

~The End

Karya : Billiam Constani Leta.
Request cerita dari : azizahisti (instagram)






2 komentar: