Kumpulan Cerpen Horror karya Billiam Cosnstani Leta, yang siap membuat malam mu menjadi mengerikan. Kunjungi halaman Facebook kami Lianosta Blog dan jangan lupa untuk membaca Term Of Service kami untuk mengetahui peraturan dan ketentuan blog ini.
Minggu, 16 Agustus 2015
Pembunuh
Selvi, begitulah biasanya orang-orang memanggil ku. Umur ku baru saja menginjak usia 7 tahun dan hari ini aku kembali tinggal di panti asuhan, setelah kedua orang tua yang mengadopsi ku tewas terbunuh. Dan kematian mereka ada hubungannya dengan Girza, hantu penunggu panti asuhan ini. Dulu ia kuanggap sebagai teman, namun sekarang berbeda, aku membencinya..
Saat itu Girza datang ke kamar ku pada tengah malam, ia datang membujuk ku untuk kembali tinggal di panti asuhan bersamanya. Namun semenjak 3 tahun yang lalu aku diadopsi, aku sudah merasa nyaman dan bahagia tinggal bersama dengan keluarga angkat ku, maka ku tolaklah ajakannya. Ini bukan pertama kalinya ajakannya ku tolak, sejak pertama kali aku pindah ke rumah berlantai dua ini pun, ia sudah mulai membujuk ku untuk kembali tinggal di panti.
Namun Girza pantang menyerah, pada malam-malam berikutnya, disaat aku sedang lelah karna menjalani aktivitas baru yaitu bersekolah, ia selalu datang mengajak ku bermain, serta membujuk ku untuk kembali ke panti. Awalnya ia datang hanya beberapa kali saja dalam seminggu tapi kini ia menjadi lebih sering muncul dan mulai menggangu aktivitas ku. Aku pun mulai merasa jenuh dan terganggu oleh keberadaannya, perlahan amarah pun mulai tumbuh didalam hati ku.
Hingga pada ahkirnya, disaat kesabaran ku sudah mencapai batasnya, Aku berkata dengan tegas kepadanyan "Girza! Aku tidak bisa bermain dan bertemu dengan mu lagi! Aku sudah lelah dengan semua ini!" ucap ku. Seketika terlihat ekspresi kaget di wajahnya, terpancar perasaan kecewa dan marah dari matanya, ia pun diam sejenak dan berkata "Apa orang tua mu itu yang menyuruh mu mengatakannya?!" tanya Girza kesal. "Apa? Ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka" jawab ku. "Ahhh!! Aku tau seharusnya aku bunuh mereka dari awal" ucap Girza Kesal. Sontak aku kaget mendengarnya dan tiba-tiba saja ia menghilang.
Kata-katanya itu membuat mata ku tak bisa kuajak untuk kembali tidur, kata-kata itu terus bergentayangan di kepala ku, kata-kata itu juga membuat hati ini menjadi cemas dan takut, hati ini takut bila Girza akan berbuat sesuatu yang buruk terhadap kedua orang tua ku. Dan hal yang kutakutkan pun terjadi..
******
Keesokan malamnya sekitar pukul delapan malam, aku dan ayah ku sedang menonton televisi di ruang keluarga, ibu ku sedang mandi dikamarnya, dan mbok Siti sedang memasak di dapur. Tiba-tiba saja Girza mucul, ia menatap ku dengan tajam dan tersenyum licik, lalu ia pergi berjalan ke dapur. Aku pun mengikutinya, namun ketika aku sampai di dapur, aku tidak melihat Girza disana, namun aku hanya melihat mbok Siti sedang berdiri diam dengan tatapan kosong. Kupanggil mbok Siti namun ia tidak menjawab. Perlahan ia meraih pisau dan berjalan ke ruang keluarga.
Aku bertanya dalam hati apa yang sedang dan akan dilakukan oleh mbok Siti, butuh waktu sejenak bagi ku untuk menyadari bahwa, dia sedang kesurupan oleh Girza dan mungkin saja ia akan mencelakai kedua orang tua ku, atau bahkan lebih buruk, membunuh mereka. Kaki ini langsung berlari untuk menghentikan mbok, namun terlambat. Dari kejauhan aku melihat mbok mengangkat pisaunya dan menghembaskannya ke leher ayah dari belakang.
Darah segar mengalir keluar dari leher ayah dan membasahi sofa yang didudukinya, tak berhenti disitu, ia menusuk-nusukan pisaunya ke badan ayah berulang kali. Ingin mulut ini berteriak, tapi melihat peristiwa itu membuat mulut ku bungkam. Hanya air mata dan ekspresi kaget yang bisa menggambarkan kondisi ku saat itu.
Tak sanggup lagi mata ini melihat kejadian itu dan tanpa sepengetahuan mbok Siti alias Girza, aku berlari ke kamar ibu untuk memperingatkannya. Aku masuk ke kamarnya dan mengetuk pintu kamar mandinya, namun tidak ada tanggapan, ibu terlalu sibuk mendengar kan lagu selagi mandi. Tak berselang lama kemudian aku mendengar suara langkah dari luar kamar sedang berjalan menuju kemari.
Dengan perasaan panik aku masuk kedalam lemari dan bersembunyi disana, pintu lemari itu memiliki sela-sela seperti ventilasi sehingga kau dapat melihat keluar namun orang lain sulit melihat kedalam. Kira-kira gambar lemarinya seperti ini.
Lalu mbok Siti pun masuk ke kamar, ia diam sejenak lalu ia bersembunyi di bawah tempat tidur, disitu ia menunggu hingga ibu ku keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian keluarlah ibu ku dari kamar mandi mengenakan piayama putihnya. Ketegangan ini membuat tubuh ku tak bisa bergerak dan mulut ku tak bisa bersuara, dan kini ajal ibu ku pun ahkirnya tiba..
Ketika ibu ku sedang asik bercermin, dengan cepat mbok Siti keluar dari persembunyiannya. Ia ayunkan pisau ditangannya dengan cepat, lalu pisau itu menancap tepat di punggung ibu ku. Darah pun mengalir keluar dari tubuhnya dan mengubah warna piyama putihnya menjadi piyama berwarna merah darah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak, ku tutup mulut ku dengan kedua tangan ku sekuat mungkin dan keringat dingin pun ikut mengalir deras membasahi tubuh mungil ku. Lalu ku penjamkan mata ku, namun telinga ini masih bisa mendengar suara ibu ku yang merintih kesakitan.
Beberapa detik kemudian keadaan menjadi sunyi, dan aku mendengar suara kaki melangkah menjauh. Kubuka mata ku perlahan, dan aku melihat ibu telah terbujur kaku dilantai berlumuran darah. Pembunuh itu tak lagi berada di dalam kamar, ia sudah keluar entah kemana. Walaupun begitu, aku masih belum berani untuk keluar dari persembunyian ku.
*****
Dua jam kemudian, setelah aku merasa keadaan sudah cukup aman. Aku paksa badan ku untuk keluar dari lemari dan berusaha untuk mencari bantuan. Namun, ketika aku membuka pintu kamar ibuku, dia.., pembunuh itu.., sedang berdiri didepan pintu sambil memegang sebuah pisau yang ia gunakan untuk membunuh kedua orang tua ku. Aku sontak kaget dan ketakutan, dengan perlahan aku berjalan mundur mendekati jendela kamar.
"Sel, ahkirnya kau muncul juga, ayo.., ikut lah dengan ku ke panti asuhan" ucapnya. "Apa kau gila?! Tentu saja aku tidak mau pergi bersama mu!" bentak ku. "Tapi kenapa ? Mereka berdua sudah kubunuh, dan kini tidak ada lagi alasan bagi mu untuk tetap tinggal disini" jawabnya. aku diam sejenak lalu berkata "Memang tidak ada lagi alasan bagi ku untuk tetap tinggal disini, tapi bukan berarti aku harus ikut bersama mu.., bye.." Setelah aku mengatakan itu, dengan sigap aku meloncat keluar jendela hingga kaca jendela itu pun pecah dan aku pun terjun bebas dari lantai dua rumah itu.
Kedua kaki ku menghantam tanah terlebih dahulu lalu tubuh ku terguling di tanah. Bisa ku rasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuh ku, namun untungnya aku tidak kehilangan kesadaran ku. Dengan susah payah aku pun bangkit berdiri dan berlari terpincang-pincang mencari bantuan. Setelah lelah berteriak sekencang mungkin, ahkirnya ada warga yang keluar dari rumahnya dan menolong ku.
*****
Keesokan paginya aku berada disebuah Rumah Sakit ternama dan seorang bapak-bapak dari lembaga perlindungan anak datang menemui ku. Orang itu menanyakan banyak hal kepada ku, namun hanya beberapa pertanyaan saja yang bisa ku jawab.
Disitu juga aku memberi tahu dia bahwa mbok Siti tidaklah bersalah, dan Girza adalah pelakunya. Orang itu tampak bingung mendengar ucapan ku, lalu ia bertanya siapa itu Girza. "Jika kubilang Girza adalah hantu, ia pasti tidak percaya dan akan menganggap ku gila" gumam ku dalam hati. Aku pun hanya bisa diam tanpa berkata sepatah kata apapun
Itulah cerita bagaimana kedua orang tua ku terbunuh sehingga aku pun harus rela kembali tinggal di panti asuhan. Aku jalani hari-hari ku disini sama seperti sebelumnya, namun kini ada satu hal yang berbeda.. Disaat dia datang dan mengajak ku bermain, aku tidak menghiraukannya. Aku berpura-pura kemampuan Six-Sense ku telah menghilang, ia pun tidak pernah lagi menggangu ku dan kini ia telah menghilang dari kehidupan ku. Namun, rasa amarah di hati ku ini tidak pernah hilang...
~The End~
Karya : Billiam Constani Leta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Mohon tinggal kan kritik dan saran anda agar kedepannya cerita yang saya buat bisa lebih baik lagi
BalasHapusCeritanya psikopat, yg hantu dong
BalasHapusLebih tepatnya ini cerita Hantu psikopat :v hantunya membunuh orang dgn cara merasuki tubuh manusia..
Hapus